SURABAYA — Mengubah kebiasaan anak bukan perkara mudah. Kebiasaan seperti terlalu sering bermain gadget, sulit merapikan barang, menunda belajar, mudah berteriak, menggigit kuku, sulit mengikuti rutinitas, atau terus melakukan hal yang sudah dilarang dapat membuat orang tua merasa kewalahan.
Tidak sedikit orang tua kemudian memilih cara yang paling cepat, seperti memarahi, mengancam, atau memberikan hukuman.
Padahal, perubahan kebiasaan pada anak membutuhkan proses. Anak tidak hanya perlu mengetahui bahwa suatu perilaku dianggap kurang baik, tetapi juga perlu memahami perilaku apa yang diharapkan sebagai penggantinya.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa perilaku anak merupakan salah satu bentuk komunikasi dan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membangun hubungan. Pendekatan yang konsisten, perhatian positif, aturan yang jelas, serta konsekuensi yang sesuai dapat membantu membentuk perilaku yang lebih positif.
Apa yang Dimaksud dengan Kebiasaan Negatif pada Anak?
Istilah “kebiasaan negatif” tidak selalu berarti anak memiliki perilaku buruk.
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini biasanya digunakan orang tua untuk menggambarkan pola perilaku yang berulang dan dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan anak atau aturan keluarga.
Contohnya:
- sering menunda ketika diminta melakukan sesuatu;
- terlalu lama bermain gadget;
- sulit berhenti bermain;
- tidak mau merapikan mainan;
- terbiasa berteriak ketika keinginannya tidak terpenuhi;
- sering menggigit kuku;
- sulit mengikuti rutinitas tidur;
- sering mengganggu orang lain;
- mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan;
- atau terus mengulangi perilaku yang sudah diarahkan untuk dihentikan.
Namun, setiap kebiasaan perlu dilihat berdasarkan usia dan konteks anak.
Perilaku tertentu yang masih wajar pada usia tertentu belum tentu menunjukkan adanya masalah. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan label seperti “nakal”, “malas”, atau “keras kepala”.
Mengapa Kebiasaan Anak Sulit Diubah?
Kebiasaan terbentuk melalui pengulangan.
Ketika suatu perilaku dilakukan berulang kali dan anak mendapatkan sesuatu setelah melakukannya—misalnya perhatian, kesenangan, kenyamanan, atau terbebas dari tugas—perilaku tersebut dapat semakin kuat.
Contohnya, seorang anak menangis ketika diminta berhenti bermain gadget. Jika setelah menangis anak akhirnya kembali diberikan gadget, tanpa disadari pola tersebut dapat terus berulang.
Hal ini bukan berarti anak sengaja “memanipulasi” orang tua.
Orang tua perlu melihat apa yang terjadi sebelum dan sesudah perilaku muncul. Dari sana, pola kebiasaan dapat lebih mudah dipahami.
1. Jangan Mencoba Mengubah Semua Kebiasaan Sekaligus
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah orang tua ingin mengubah semuanya dalam waktu bersamaan.
Hari ini anak diminta tidak bermain gadget terlalu lama.
Besok harus lebih rajin belajar.
Di saat yang sama harus lebih rapi, tidak membantah, tidak berteriak, dan harus tidur tepat waktu.
Bagi anak, terlalu banyak perubahan sekaligus dapat terasa berat.
AAP juga menekankan pentingnya perubahan yang realistis dan pendekatan yang konsisten dalam membantu orang tua menghadapi perilaku anak.
Lebih baik pilih satu kebiasaan yang paling penting untuk diperbaiki terlebih dahulu.
Misalnya:
“Minggu ini kita fokus membiasakan anak merapikan mainan setelah bermain.”
Setelah pola tersebut mulai terbentuk, orang tua dapat melanjutkan ke kebiasaan lainnya.
2. Tentukan Perilaku Pengganti
Jangan hanya mengatakan kepada anak apa yang tidak boleh dilakukan.
Beritahu juga apa yang seharusnya dilakukan.
Misalnya:
❌ “Jangan berantakan!”
Lebih jelas:
✅ “Setelah bermain, mainannya dimasukkan kembali ke kotak.”
Atau:
❌ “Jangan teriak!”
Lebih membantu:
✅ “Kalau marah, coba bilang dengan suara pelan apa yang kamu mau.”
CDC merekomendasikan agar orang tua memberikan arahan yang sederhana, jelas, sesuai usia, dan menyebutkan perilaku yang diharapkan, bukan hanya mengatakan apa yang harus dihentikan.
Dengan demikian, anak tidak hanya mengetahui bahwa perilaku lama harus dikurangi, tetapi juga mempunyai alternatif yang bisa dilakukan.
3. Buat Aturan yang Sederhana dan Konsisten
Anak membutuhkan batasan yang dapat diprediksi.
Misalnya keluarga menetapkan aturan:
“Gadget digunakan setelah tugas selesai.”
Aturan tersebut perlu diterapkan secara konsisten.
Jika hari ini berlaku tetapi besok tidak, anak dapat kesulitan memahami batas yang sebenarnya.
CDC menyebutkan bahwa rutinitas dan aturan yang konsisten membantu anak mengetahui apa yang diharapkan dan apa yang akan terjadi berikutnya. Konsistensi, prediktabilitas, dan tindak lanjut merupakan bagian penting dalam membangun struktur di rumah.
Artinya, bukan aturan yang semakin banyak yang dibutuhkan anak, melainkan aturan yang jelas dan dapat dijalankan secara konsisten.
4. Berikan Pujian Ketika Anak Berhasil
Perubahan kecil sering kali tidak mendapatkan perhatian orang tua.
Padahal, justru perubahan kecil tersebut perlu diperkuat.
Misalnya anak biasanya harus diingatkan berkali-kali untuk merapikan mainan. Suatu hari ia melakukannya sendiri.
Jangan lewatkan momen tersebut.
Orang tua dapat mengatakan:
“Mama lihat kamu langsung merapikan mainan setelah selesai bermain. Bagus, kamu sudah mulai terbiasa.”
CDC merekomendasikan pujian yang spesifik agar anak mengetahui perilaku apa yang dilakukan dengan benar. Perhatian positif dapat membantu meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut dilakukan kembali.
AAP juga merekomendasikan pujian terhadap keberhasilan maupun usaha anak sebagai bagian dari pengajaran perilaku yang baik.
5. Jangan Selalu Memberikan Perhatian pada Perilaku Negatif
Anak membutuhkan perhatian dari orang tua.
Menariknya, perhatian negatif pun tetap merupakan bentuk perhatian.
Ketika anak melakukan perilaku tertentu lalu mendapatkan reaksi besar dari orang tua—teriakan, ceramah panjang, atau perdebatan—perilaku tersebut dalam kondisi tertentu justru dapat terus mendapatkan “imbalan” berupa perhatian.
CDC menjelaskan bahwa perhatian, baik positif maupun negatif, dapat memengaruhi perilaku anak. Untuk perilaku ringan yang aman dan memang bertujuan mencari perhatian, pengalihan perhatian dapat menjadi salah satu strategi; namun pendekatan tersebut tidak boleh digunakan untuk perilaku berbahaya atau ketika anak sedang mengalami distress.
Karena itu, orang tua perlu belajar memilih respons.
Tidak semua perilaku harus dibalas dengan reaksi besar.
6. Cari Tahu Pemicu Kebiasaan
Kebiasaan tertentu mungkin muncul karena ada pola yang berulang.
Coba perhatikan:
Kapan perilaku tersebut muncul?
Apakah saat anak:
- lelah?
- lapar?
- bosan?
- diminta berhenti bermain?
- menghadapi tugas yang sulit?
- mendapatkan larangan?
- sedang bersama orang tertentu?
- mengalami perubahan rutinitas?
Misalnya anak selalu marah ketika diminta belajar.
Masalahnya mungkin bukan sekadar “anak malas belajar”.
Bisa jadi tugas terlalu sulit, anak sudah lelah, belum memiliki rutinitas belajar yang nyaman, atau merasa belajar selalu identik dengan tekanan.
Memahami pemicu membuat orang tua dapat mencari solusi yang lebih tepat.
7. Bangun Rutinitas yang Membantu
Perubahan kebiasaan akan lebih mudah dilakukan ketika anak memiliki struktur yang jelas.
Contohnya rutinitas sederhana:
Pulang sekolah → makan → istirahat → bermain → belajar → makan malam → mandi → persiapan tidur.
Rutinitas tidak harus kaku.
Yang penting anak mengetahui urutan kegiatan dan apa yang akan terjadi berikutnya.
CDC menyebutkan bahwa rutinitas dapat memberikan struktur, membantu anak merasa aman, dan membuat orang tua lebih mudah merespons secara konsisten.
8. Orang Tua Juga Perlu Menjadi Contoh
Anak belajar bukan hanya dari nasihat.
Mereka juga mengamati perilaku orang-orang di sekitarnya.
Jika orang tua ingin anak berbicara dengan tenang, orang tua dapat menunjukkan bagaimana menyampaikan kemarahan tanpa berteriak.
Jika ingin anak terbiasa membaca, orang tua dapat menunjukkan bahwa membaca juga merupakan bagian dari aktivitas keluarga.
Jika ingin anak mengurangi penggunaan gadget, orang tua juga dapat mengevaluasi kebiasaan penggunaan gadget di rumah.
Dengan kata lain, perubahan kebiasaan anak tidak selalu berdiri sendiri.
Lingkungan tempat anak tumbuh ikut membentuk perilakunya.
9. Hindari Memberikan Label pada Anak
Kalimat seperti:
“Kamu memang malas.”
“Kamu anak nakal.”
“Dari dulu susah diatur.”
mungkin keluar ketika orang tua sudah lelah.
Namun, sebaiknya kritik diarahkan kepada perilakunya, bukan identitas anak.
Contohnya:
“Mama tidak suka kalau kamu melempar barang.”
berbeda dengan:
“Kamu memang anak nakal.”
Anak perlu memahami bahwa perilaku tertentu bisa diperbaiki tanpa merasa dirinya sebagai pribadi yang buruk.
10. Beri Waktu untuk Proses Perubahan
Kebiasaan tidak terbentuk dalam satu hari.
Karena itu, perubahan juga tidak selalu terjadi dalam satu atau dua kali percobaan.
Ada hari ketika anak berhasil.
Ada hari ketika kebiasaan lama muncul kembali.
Hal tersebut tidak otomatis berarti semua usaha gagal.
Orang tua dapat kembali pada aturan, rutinitas, dan respons yang sudah disepakati.
Yang penting adalah melihat arah perubahannya, bukan menuntut kesempurnaan setiap hari.
Bagaimana Jika Kebiasaan Negatif Terus Berulang?
Jika suatu kebiasaan sudah dicoba diperbaiki melalui komunikasi, rutinitas, batasan, dan penguatan positif tetapi tetap berlangsung atau justru semakin mengganggu kehidupan anak, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi profesional.
Terlebih jika kebiasaan tersebut disertai perubahan lain, seperti:
- emosi yang semakin sulit dikendalikan;
- kecemasan atau ketakutan yang menetap;
- menarik diri dari lingkungan;
- masalah tidur;
- perubahan pola makan;
- kesulitan di sekolah;
- konflik sosial yang semakin sering;
- atau perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk mencari tahu apa yang mendasari perilaku tersebut, bukan hanya berusaha menghentikannya.
Apakah Hipnoterapi Bisa Membantu Mengubah Kebiasaan Anak?
Hipnoterapi tidak seharusnya dipandang sebagai cara untuk membuat anak langsung patuh atau menghilangkan kebiasaan secara instan.
Pada kondisi tertentu, hipnoterapi dapat menjadi salah satu pendekatan pendamping yang dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan individu. Prosesnya perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, termasuk pola pikir, respons emosi, pengalaman, serta kebiasaan yang ingin diubah.
Pendekatan seperti hipnoterapi juga tidak menggantikan evaluasi medis atau psikologis ketika kondisi anak memang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan tersebut.
Di Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat, proses pendampingan dapat menggunakan pendekatan Hipnoterapi, NLP, dan Mind Shifting sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak “menurut”, tetapi membantu memahami pola yang mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan mendukung proses perubahan yang lebih terarah.
Perubahan Kebiasaan Anak Dimulai dari Memahami, Bukan Sekadar Melarang
Mengubah kebiasaan negatif anak membutuhkan lebih dari sekadar kalimat:
“Jangan lakukan itu lagi!”
Anak perlu mengetahui perilaku apa yang diharapkan, mendapatkan batasan yang jelas, memiliki rutinitas yang konsisten, serta mendapatkan apresiasi ketika berhasil melakukan perubahan.
Orang tua juga perlu melihat kebiasaan secara lebih luas.
Apa yang memicunya? Apa yang terjadi setelah perilaku tersebut? Dan kebiasaan positif apa yang ingin dibangun sebagai gantinya?
Dengan pendekatan yang konsisten dan sesuai kebutuhan anak, perubahan dapat dilakukan secara bertahap.
Jangan Biarkan Kebiasaan yang Mengganggu Terus Berulang
Jika Bunda atau Ayah sudah mencoba berbagai cara tetapi kebiasaan anak tetap berulang, semakin sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mungkin sudah waktunya melihat masalah tersebut dari sudut pandang yang lebih mendalam.
Jangan hanya berusaha menghentikan kebiasaannya. Pahami pola di baliknya. Temukan pendekatan yang sesuai. Dan mulai proses perubahan dari dalam.
Konsultasikan kebutuhan anak bersama Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat.
📍 Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Karangpilang, Surabaya
📱 WhatsApp: 0851-2333-3708























