SURABAYA — Membentuk kebiasaan positif pada anak tidak harus dimulai dari aturan yang banyak atau disiplin yang keras. Justru, kebiasaan baik sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara berulang: bangun dan tidur pada waktu yang relatif teratur, merapikan mainan, mencuci tangan, mengucapkan terima kasih, membaca, membantu pekerjaan ringan di rumah, hingga belajar mengelola emosi.
Bagi sebagian orang tua, tantangan terbesar bukan mengajarkan apa yang baik kepada anak, melainkan membuat kebiasaan tersebut bertahan dalam keseharian.
Anak mungkin sudah tahu bahwa mainan harus dirapikan, tetapi tetap meninggalkannya begitu saja. Anak tahu harus menggosok gigi sebelum tidur, tetapi masih harus diingatkan. Anak juga mungkin sudah memahami bahwa berbicara dengan sopan itu penting, tetapi ketika emosinya muncul, kebiasaan tersebut tiba-tiba hilang.
Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses belajar.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), rutinitas dan aturan yang konsisten dapat membantu anak mengetahui apa yang diharapkan dan membuat keseharian lebih terstruktur. Konsistensi, prediktabilitas, dan tindak lanjut juga menjadi bagian penting dalam membangun perilaku yang diharapkan.
Apa yang Dimaksud dengan Kebiasaan Positif pada Anak?
Kebiasaan positif adalah pola perilaku yang membantu anak menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih sehat, mandiri, teratur, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Contohnya dapat berupa:
- terbiasa merapikan barang setelah digunakan;
- mencuci tangan sebelum makan;
- menggosok gigi secara rutin;
- memiliki jadwal tidur yang konsisten;
- membaca atau melakukan aktivitas belajar secara teratur;
- membantu pekerjaan sederhana di rumah;
- mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata;
- belajar menunggu giliran;
- terbiasa mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih;
- menjaga kebersihan diri dan lingkungan;
- serta belajar menyelesaikan tugas sederhana sesuai kemampuan.
Kebiasaan tersebut tidak muncul secara otomatis.
Anak membutuhkan contoh, pengulangan, arahan, kesempatan untuk mencoba, dan respons orang tua yang konsisten.
Mengapa Kebiasaan Positif Perlu Dibentuk Sejak Anak?
Masa kanak-kanak merupakan periode ketika anak terus belajar melalui pengalaman sehari-hari.
CDC menyebutkan bahwa rutinitas, aturan rumah, komunikasi, hubungan yang hangat, serta pola pengasuhan yang tepat dapat mendukung perkembangan anak dalam berbagai aspek, termasuk sosial, emosional, kognitif, dan perilaku.
Karena itu, kebiasaan sederhana yang dibangun sejak kecil bukan hanya soal membuat anak lebih mudah diatur.
Anak juga sedang belajar mengenai:
tanggung jawab, kemandirian, pengendalian diri, konsistensi, dan cara berinteraksi dengan lingkungan.
Namun, prosesnya tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
1. Mulai dari Satu Kebiasaan
Orang tua terkadang ingin mengubah terlalu banyak hal sekaligus.
Anak diminta:
- rajin belajar,
- merapikan kamar,
- mengurangi gadget,
- tidur tepat waktu,
- tidak membantah,
- membantu orang tua,
- dan menjaga kebersihan.
Semua aturan tersebut mungkin baik. Namun, terlalu banyak target sekaligus dapat membuat penerapannya sulit dilakukan secara konsisten.
CDC menyarankan aturan dibuat jelas, realistis, dan sesuai kemampuan anak. Untuk anak kecil, jumlah aturan yang dapat diingat juga terbatas sehingga lebih baik memulai dari beberapa aturan penting terlebih dahulu.
Karena itu, pilih satu kebiasaan yang paling prioritas.
Misalnya:
“Setelah bermain, mainan dikembalikan ke tempatnya.”
Setelah anak mulai terbiasa, kebiasaan lain dapat diperkenalkan secara bertahap.
2. Buat Rutinitas yang Mudah Diprediksi
Anak lebih mudah memahami kebiasaan ketika kegiatan dilakukan dalam pola yang relatif konsisten.
Misalnya rutinitas sebelum tidur:
Mandi → memakai piyama → menggosok gigi → membaca buku → tidur.
Dengan urutan yang sama, anak perlahan memahami bahwa satu aktivitas akan diikuti oleh aktivitas berikutnya.
CDC menjelaskan bahwa rutinitas yang konsisten dan dapat diprediksi membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi dan membuat aktivitas sehari-hari berjalan lebih lancar.
Rutinitas juga tidak harus kaku.
Jika terdapat perubahan jadwal, orang tua dapat menjelaskannya dengan tenang kepada anak.
3. Berikan Instruksi yang Jelas
Anak tidak selalu memahami kalimat yang terlalu umum.
Misalnya:
“Ayo yang rapi!”
Bagi orang dewasa, maksudnya mungkin jelas.
Namun, anak bisa saja bertanya:
Rapi yang bagaimana? Harus mulai dari mana?
Akan lebih mudah jika orang tua mengatakan:
“Tolong masukkan semua mobil-mobilan ke kotaknya.”
CDC merekomendasikan arahan yang sederhana, jelas, sesuai usia, dan menjelaskan perilaku yang diharapkan.
Semakin konkret instruksinya, semakin mudah anak mengetahui apa yang harus dilakukan.
4. Orang Tua Perlu Memberikan Contoh
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Jika ingin anak berbicara dengan sopan, orang tua dapat menunjukkan komunikasi yang sopan.
Jika ingin anak mengelola emosi dengan tenang, orang tua juga perlu menunjukkan bagaimana menghadapi rasa frustrasi.
Jika ingin anak terbiasa membaca, orang tua dapat menyediakan waktu untuk membaca bersama.
American Academy of Pediatrics (AAP) menekankan pentingnya modeling atau memberikan contoh perilaku yang ingin dilihat pada anak. Anak banyak belajar dengan mengamati orang di sekitarnya, terutama orang tua.
Dengan demikian, kebiasaan positif bukan hanya sesuatu yang diajarkan.
Kebiasaan positif juga sesuatu yang ditunjukkan.
5. Berikan Pujian yang Spesifik
Ketika anak melakukan kebiasaan positif, jangan hanya diam.
Berikan apresiasi.
Tetapi, daripada hanya mengatakan:
“Pintar.”
Orang tua dapat mengatakan:
“Mama lihat kamu langsung merapikan mainan setelah selesai bermain. Bagus, kamu sudah mulai terbiasa.”
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang sedang diapresiasi.
CDC menjelaskan bahwa pujian yang spesifik dapat membantu meningkatkan perilaku positif yang ingin dibangun.
AAP juga merekomendasikan orang tua mengenali usaha dan keberhasilan anak secara spesifik, bukan hanya memperhatikan ketika anak melakukan kesalahan.
6. Berikan Kesempatan Anak untuk Melakukannya Sendiri
Membentuk kebiasaan positif bukan berarti orang tua harus terus-menerus membantu.
Jika anak sudah mampu melakukan sesuatu sesuai usianya, berikan kesempatan untuk mencoba sendiri.
Misalnya:
- memasukkan pakaian kotor ke tempatnya;
- merapikan mainan;
- membawa piring ke tempat yang ditentukan;
- memilih buku sebelum tidur;
- menyiapkan perlengkapan sekolah sederhana.
Mungkin hasilnya belum sempurna.
Tidak masalah.
Pada tahap awal, yang lebih penting adalah anak belajar bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu dan bertanggung jawab terhadap tugas tersebut.
7. Jadikan Kebiasaan Lebih Menyenangkan
Tidak semua kebiasaan harus terasa seperti kewajiban.
Rutinitas dapat dibuat lebih menyenangkan.
Misalnya:
“Yuk, kita lihat siapa yang bisa merapikan mainan sebelum lagu selesai.”
Atau:
“Setelah sikat gigi, kita pilih satu buku untuk dibaca.”
CDC juga menyarankan agar rutinitas dibuat sederhana dan dapat memasukkan unsur positif atau menyenangkan untuk meningkatkan keterlibatan anak.
Hal sederhana seperti ini dapat membuat anak lebih mudah menerima rutinitas.
8. Jangan Hanya Fokus pada Kesalahan
Dalam proses membentuk kebiasaan, anak pasti melakukan kesalahan.
Hari ini anak merapikan mainan.
Besok lupa lagi.
Hari ini menggosok gigi tanpa diingatkan.
Besok harus diingatkan kembali.
Itu bukan berarti prosesnya gagal.
Orang tua dapat mengingatkan tanpa memberikan label negatif.
Daripada:
“Kamu memang malas, sudah dibilang berkali-kali!”
Lebih baik:
“Mainannya belum dirapikan. Yuk, kita kembalikan ke tempatnya.”
Fokuskan koreksi pada perilakunya, bukan pada identitas anak.
9. Konsisten dengan Aturan
Salah satu tantangan terbesar dalam membangun kebiasaan adalah konsistensi.
Misalnya, aturan di rumah mengatakan bahwa gadget digunakan setelah tugas selesai.
Jika aturan tersebut diterapkan secara berbeda setiap hari, anak dapat kesulitan memahami pola yang diharapkan.
CDC menekankan bahwa konsistensi berarti orang tua merespons perilaku dengan cara yang relatif sama, sedangkan prediktabilitas membuat anak mengetahui apa yang akan terjadi.
Karena itu, orang tua dan pengasuh lain sebaiknya memiliki pemahaman yang sama mengenai aturan utama di rumah.
10. Gunakan Penguatan Positif Secara Bijak
Untuk kebiasaan tertentu, penghargaan sederhana dapat membantu.
Misalnya membuat tabel kebiasaan dengan beberapa target:
☑ Merapikan mainan
☑ Menggosok gigi
☑ Menyiapkan tas sekolah
☑ Membaca buku
Ketika anak berhasil, berikan tanda pada tabel.
Namun, penghargaan tidak harus selalu berupa hadiah berupa barang.
Pujian, pelukan, waktu bermain bersama, atau perhatian positif juga dapat menjadi bentuk penghargaan.
CDC menjelaskan bahwa perhatian positif dan pujian dapat mendorong perilaku yang diharapkan, sementara sistem penghargaan sederhana dapat digunakan untuk target perilaku tertentu.
11. Libatkan Anak dalam Membuat Kebiasaan
Semakin besar usia anak, semakin penting memberikan ruang untuk berpartisipasi.
Misalnya ketika membuat rutinitas sore, orang tua dapat bertanya:
“Menurut kamu, enaknya belajar dulu atau mandi dulu?”
Bukan berarti semua keputusan diserahkan kepada anak.
Orang tua tetap menentukan batasannya, tetapi anak dapat diberikan pilihan di dalam batas tersebut.
Cara ini dapat membantu anak merasa ikut memiliki prosesnya.
12. Jangan Membandingkan Anak dengan Anak Lain
Kalimat seperti:
“Lihat temanmu, dia sudah rajin.”
atau
“Kakakmu dulu tidak seperti kamu.”
mungkin dimaksudkan untuk memotivasi.
Namun, membandingkan anak dapat membuat fokus bergeser dari proses menjadi perasaan tidak mampu.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda.
CDC juga menekankan bahwa anak berkembang sesuai tahap dan kecepatannya masing-masing.
Lebih baik membandingkan anak dengan perkembangannya sendiri.
Misalnya:
“Dulu kamu harus diingatkan tiga kali. Sekarang sudah dua kali. Yuk, coba kita biasakan sampai bisa sendiri.”
Kebiasaan Positif yang Bisa Dilatih di Rumah
Orang tua tidak harus langsung membuat target yang rumit.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilatih sesuai usia anak antara lain:
Kebiasaan menjaga diri
- menggosok gigi;
- mencuci tangan;
- mandi;
- menjaga kebersihan pakaian.
Kebiasaan bertanggung jawab
- merapikan mainan;
- mengembalikan barang ke tempatnya;
- membantu pekerjaan ringan;
- menyiapkan perlengkapan sederhana.
Kebiasaan belajar
- membaca;
- mengerjakan tugas pada waktu tertentu;
- menyiapkan perlengkapan sekolah;
- menyelesaikan aktivitas sebelum berpindah ke aktivitas berikutnya.
Kebiasaan sosial dan emosional
- mengucapkan terima kasih;
- meminta maaf;
- menunggu giliran;
- mengungkapkan perasaan dengan kata-kata;
- belajar menenangkan diri ketika frustrasi.
Tidak semua kebiasaan harus dilatih bersamaan. Pilih yang paling sesuai dengan usia, kemampuan, dan kebutuhan anak.
Bagaimana Jika Anak Sulit Membentuk Kebiasaan?
Jika anak terus mengalami kesulitan meskipun orang tua sudah membuat rutinitas, memberikan contoh, memberikan arahan, dan menggunakan penguatan positif, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak malas atau tidak mau berubah.
Coba lihat lebih jauh.
Apakah anak sedang mengalami tekanan?
Apakah ada perubahan besar dalam kehidupannya?
Apakah kebiasaan tersebut berkaitan dengan emosi tertentu?
Apakah anak mengalami kesulitan mengikuti instruksi?
Apakah masalah tersebut hanya muncul di rumah atau juga di sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu orang tua melihat situasi secara lebih menyeluruh.
Jika kesulitan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pembelajaran, atau kondisi emosional anak, konsultasi dengan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Apakah Hipnoterapi Bisa Mendukung Pembentukan Kebiasaan Anak?
Pembentukan kebiasaan tidak seharusnya dipahami sebagai proses untuk membuat anak selalu menurut.
Tujuan utamanya adalah membantu anak mengembangkan pola perilaku yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.
Pada kondisi tertentu, hipnoterapi dapat menjadi salah satu pendekatan pendamping sesuai kebutuhan individu. Pendekatan tersebut sebaiknya dilakukan secara terarah dan tidak digunakan untuk memaksa anak melakukan sesuatu di luar kehendaknya.
Di Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat, proses pendampingan dapat menggunakan pendekatan Hipnoterapi, NLP, dan Mind Shifting sesuai kondisi dan kebutuhan individu.
Pendekatan tersebut dapat diarahkan untuk membantu memahami pola pikir, respons emosi, dan kebiasaan yang berkaitan dengan keluhan anak.
Namun, apabila terdapat masalah perkembangan, medis, psikologis, atau perilaku yang membutuhkan evaluasi khusus, orang tua tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dari tenaga profesional yang sesuai.
Membentuk Kebiasaan Positif Tidak Harus Sempurna
Pada akhirnya, membentuk kebiasaan positif bukan tentang membuat anak selalu melakukan semuanya dengan benar.
Ada hari ketika anak berhasil.
Ada hari ketika anak lupa.
Ada hari ketika orang tua harus mengingatkan berkali-kali.
Itu bagian dari proses belajar.
Yang terpenting adalah memberikan contoh yang konsisten, aturan yang jelas, rutinitas yang dapat diprediksi, kesempatan untuk mencoba, dan apresiasi terhadap kemajuan kecil.
Karena kebiasaan baik tidak terbentuk dalam satu malam.
Kebiasaan terbentuk dari hal kecil yang dilakukan berulang kali.
Saatnya Mendampingi Anak Membentuk Perubahan yang Lebih Positif
Jika Bunda atau Ayah merasa anak membutuhkan pendampingan untuk memahami pola perilaku, emosi, atau kebiasaan yang terus berulang, jangan hanya melihat apa yang tampak di permukaan.
Cari tahu apa yang ada di baliknya. Pahami kebutuhan anak. Dan pilih pendekatan yang sesuai.
Bersama Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat, proses pendampingan dapat dilakukan dengan pendekatan Hipnoterapi, NLP, dan Mind Shifting sesuai kebutuhan individu.
Konsultasikan keluhan anak bersama Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat.
📍 Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Karangpilang, Surabaya
📱 WhatsApp: 0851-2333-3708























