SURABAYA — Anak lama menghabiskan makanan menjadi salah satu persoalan yang sering membuat orang tua khawatir saat mendampingi anak makan. Ketika anggota keluarga lain sudah selesai, anak justru masih mengunyah sedikit demi sedikit, memainkan makanan, mengalihkan perhatian, atau berhenti makan dalam waktu lama.
Kebiasaan ini tidak hanya membuat waktu makan terasa lebih panjang, tetapi juga dapat memicu ketegangan di rumah. Orang tua mungkin berulang kali mengingatkan anak agar segera makan, menyuapi dengan terburu-buru, atau meminta anak menghabiskan makanan sebelum diizinkan kembali bermain.
Namun, anak yang makan terlalu lama tidak selalu berarti malas makan atau sengaja mengulur waktu. Ada berbagai kemungkinan penyebab, mulai dari kurangnya rasa lapar, gangguan konsentrasi, ketidaksukaan terhadap tekstur makanan, hingga kesulitan mengunyah atau menelan.
Memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar orang tua tidak terburu-buru menyalahkan anak. Lantas, mengapa anak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan makanan, dan bagaimana cara mengatasinya tanpa menciptakan tekanan baru?
Mengapa Anak Lama Menghabiskan Makanan?
Durasi makan setiap anak dapat berbeda-beda, tergantung usia, jenis makanan, kemampuan makan, dan kondisi saat itu. Meski demikian, kebiasaan makan yang berlangsung sangat lama secara berulang perlu diperhatikan, terutama jika membuat asupan makanan tidak mencukupi atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berikut beberapa faktor yang dapat memengaruhi kebiasaan tersebut.
1. Anak Mudah Teralihkan Saat Makan
Salah satu penyebab anak lama menghabiskan makanan adalah perhatian yang mudah teralihkan. Anak mungkin lebih tertarik melihat televisi, bermain dengan mainan, berbicara, atau memperhatikan hal lain di sekitarnya daripada berfokus pada makanan.
Akibatnya, anak hanya makan beberapa suap sebelum berhenti melakukan aktivitas makan. Ketika orang tua mengingatkan, anak kembali makan sebentar, lalu teralihkan lagi.
Untuk membantu mengatasinya, orang tua dapat menciptakan lingkungan makan yang lebih tenang. Kurangi penggunaan layar dan singkirkan mainan yang tidak diperlukan selama makan.
Ajak anak duduk bersama keluarga jika memungkinkan. Pendekatan ini dapat membantu membentuk rutinitas makan yang lebih terarah tanpa harus terus-menerus memberikan teguran.
2. Anak Belum Merasa Lapar
Anak yang belum merasa lapar mungkin makan dengan lambat, berhenti berulang kali, atau hanya mengonsumsi sedikit makanan.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi camilan, susu, atau minuman yang mengenyangkan terlalu dekat dengan waktu makan utama. Akibatnya, ketika makanan disajikan, anak belum memiliki dorongan untuk makan lebih banyak.
Orang tua dapat mencoba membuat jadwal makan utama dan camilan yang lebih teratur. Berikan jeda yang sesuai agar anak memiliki kesempatan merasakan lapar secara alami, tanpa sengaja membiarkannya kelaparan.
Kebutuhan makan dan minum setiap anak tetap perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan kebutuhan nutrisinya.
3. Anak Tidak Menyukai Tekstur atau Jenis Makanan Tertentu
Tekstur makanan dapat memengaruhi kecepatan anak makan. Sebagian anak lebih nyaman dengan makanan yang lunak, sedangkan yang lain membutuhkan waktu lebih lama ketika menghadapi tekstur yang tidak biasa.
Anak juga mungkin berhenti makan ketika menemukan makanan yang tidak disukai, memisahkan bahan tertentu dari piringnya, atau hanya menghabiskan bagian makanan yang dianggap menarik.
Orang tua dapat memperkenalkan variasi makanan secara bertahap dan menyertakan makanan yang sudah dikenal anak. Hindari memaksa anak menghabiskan makanan yang ditolaknya.
Namun, jika anak terus kesulitan menghadapi berbagai tekstur, pilihan makanannya semakin terbatas, atau terlihat kesulitan mengunyah, evaluasi lebih lanjut dapat diperlukan.
4. Kemampuan Mengunyah Anak Belum Optimal
Proses makan melibatkan keterampilan mengunyah, menggerakkan makanan di dalam mulut, dan menelannya dengan aman. Anak yang masih belajar menguasai keterampilan tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan anak lain.
Meski begitu, orang tua perlu membedakan proses belajar makan yang masih wajar dari tanda kesulitan makan. Anak yang terus menyimpan makanan di dalam mulut, sering tersedak, batuk ketika makan, atau tampak kesulitan menelan sebaiknya mendapatkan penilaian tenaga kesehatan.
Pastikan tekstur dan ukuran makanan sesuai dengan usia serta kemampuan anak. Jangan terburu-buru menaikkan tingkat kekerasan makanan jika anak belum siap.
Jika muncul dugaan gangguan mengunyah atau menelan, jangan hanya mengandalkan latihan makan di rumah. Mintalah arahan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah yang aman.
5. Anak Merasa Tertekan karena Terus Diminta Segera Makan
Ucapan seperti “cepat habiskan”, “kenapa makan lama sekali?”, atau “kalau tidak habis, tidak boleh bermain” dapat membuat waktu makan terasa penuh tuntutan.
Ketika anak terus-menerus diingatkan dengan nada marah, ia mungkin menjadi gelisah, kehilangan minat makan, atau semakin sulit menikmati makanan.
Tekanan juga dapat membuat orang tua dan anak terjebak dalam pola yang berulang: orang tua mendesak, anak semakin lambat, lalu orang tua kembali meningkatkan tekanan.
Cobalah mengganti teguran dengan arahan yang tenang dan konsisten. Berikan kesempatan kepada anak untuk makan dengan kecepatannya sendiri selama tetap aman dan sesuai kebutuhannya.
Tujuan orang tua bukan sekadar mempercepat waktu makan, melainkan membantu anak membangun pengalaman makan yang positif.
6. Anak Terbiasa Makan Sambil Melakukan Aktivitas Lain
Kebiasaan makan sambil menonton video atau bermain dapat membuat anak kurang memperhatikan makanan yang sedang dikonsumsi.
Sebagian anak baru bersedia makan ketika diberikan tontonan atau diajak bermain. Akibatnya, proses makan menjadi bergantung pada stimulasi dari luar dan sulit dilakukan ketika gangguan tersebut tidak tersedia.
Jika kebiasaan ini sudah terbentuk, perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Mulailah dengan membuat waktu makan sebagai aktivitas tersendiri, menggunakan suasana yang nyaman, dan mengajak anak berinteraksi dengan keluarga.
Hindari langsung mengubah semua kebiasaan secara keras apabila hal itu memicu konflik. Konsistensi dan pendekatan yang sesuai usia lebih penting daripada perubahan yang mendadak.
7. Anak Sedang Lelah atau Kurang Sehat
Anak yang lelah, mengantuk, atau sedang tidak enak badan dapat mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi ini bisa membuat anak makan lebih lambat atau berhenti sebelum menghabiskan makanannya.
Keluhan seperti sariawan, sakit tenggorokan, nyeri gigi, mual, sembelit, dan gangguan pencernaan juga dapat membuat makan terasa tidak nyaman.
Perhatikan apakah kebiasaan makan lambat muncul bersamaan dengan gejala lain, misalnya demam, muntah, keluhan nyeri, atau perubahan aktivitas.
Jika anak mengalami penurunan nafsu makan yang menetap atau disertai gejala fisik, konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jangan langsung menganggapnya sebagai kebiasaan buruk atau GTM.
Apakah Anak yang Makan Terlalu Lama Termasuk GTM?
Gerakan tutup mulut (GTM) merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan, misalnya mengatupkan mulut, memalingkan wajah, atau menolak suapan.
Anak yang makan terlalu lama mungkin juga menunjukkan perilaku penolakan makan. Namun, durasi makan yang panjang saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami GTM atau gangguan makan tertentu.
Ada anak yang makan lambat karena mudah teralihkan, ada yang belum merasa lapar, dan ada pula yang membutuhkan pemeriksaan karena mengalami kesulitan mengunyah atau menelan.
Orang tua perlu memperhatikan pola yang terjadi. Apakah anak makan lambat pada semua jenis makanan? Apakah ia hanya lambat ketika menghadapi tekstur tertentu? Apakah makanan sering tersisa karena anak berhenti makan, atau karena ia benar-benar kesulitan mengunyah?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan langkah yang tepat.
Cara Mengatasi Anak yang Lama Menghabiskan Makanan
Menghadapi anak yang makan terlalu lama membutuhkan pendekatan yang konsisten. Orang tua dapat memperbaiki rutinitas, mengurangi gangguan, dan mengamati kebutuhan anak tanpa memaksanya makan lebih cepat.
1. Tetapkan Rutinitas Makan yang Teratur
Buat jadwal makan utama dan camilan yang relatif konsisten. Rutinitas membantu anak mengenali waktu makan sekaligus memberikan jeda di antara kesempatan makan.
Perhatikan pula waktu tidur dan aktivitas anak. Jika anak terlalu mengantuk saat makan, pertimbangkan penyesuaian jadwal agar ia dapat makan ketika lebih siap.
Jadwal yang teratur bukan berarti anak harus selalu makan dalam jumlah yang sama. Tetap perhatikan rasa lapar, rasa kenyang, dan kebutuhan individualnya.
2. Sajikan Porsi Sesuai Kebutuhan Anak
Porsi yang terlalu besar dapat membuat anak merasa terbebani, khususnya ketika nafsu makannya sedang menurun.
Mulailah dengan porsi yang sesuai usia dan kemampuan makan anak. Jika anak masih lapar, tawarkan tambahan secara bertahap.
Hindari menuntut anak menghabiskan seluruh isi piring. Perhatikan kecukupan asupan secara keseluruhan dan pola pertumbuhannya, bukan hanya jumlah makanan dalam satu kali makan.
3. Kurangi Gangguan Selama Makan
Matikan televisi, jauhkan ponsel, dan simpan mainan yang tidak diperlukan. Buat area makan menjadi tempat yang nyaman untuk mengenal dan menikmati makanan.
Orang tua dapat memberikan contoh dengan ikut makan dan tidak terus-menerus menggunakan perangkat elektronik selama waktu makan.
Jika anak sudah terbiasa makan sambil menonton, lakukan perubahan secara bertahap dan konsisten. Jelaskan aturan dengan bahasa sederhana agar anak memahami rutinitas yang sedang dibangun.
4. Berikan Contoh Makan dengan Tenang
Anak dapat belajar dari kebiasaan orang di sekitarnya. Ketika orang tua menikmati makanan dengan tenang dan tidak menunjukkan ketegangan, anak memperoleh contoh perilaku makan yang positif.
Hindari membandingkan kecepatan makan anak dengan saudara atau teman sebaya. Setiap anak memiliki kebutuhan dan keterampilan yang berbeda.
Apabila anak makan lambat, berikan arahan seperlunya tanpa terus mengawasi setiap suapan. Biarkan anak berlatih makan secara mandiri sesuai usianya, dengan pengawasan yang aman.
5. Perkenalkan Makanan Secara Bertahap
Jika anak makan lambat karena menolak tekstur atau jenis makanan tertentu, tawarkan variasi secara bertahap.
Sajikan makanan baru bersama makanan yang sudah dikenal. Berikan kesempatan kepada anak untuk melihat, menyentuh, mencium, dan mencicipi makanan tanpa harus langsung menghabiskannya.
Hindari menggunakan ancaman atau menjadikan makanan sebagai hadiah dan hukuman. Tujuannya adalah membantu anak merasa lebih nyaman dalam mengenal beragam makanan.
6. Hindari Memaksa atau Terus-Menerus Mendesak
Mengingatkan anak sesekali mungkin diperlukan, tetapi desakan yang terus-menerus dapat membuat suasana makan semakin menegangkan.
Orang tua dapat menetapkan rutinitas waktu makan yang wajar dan konsisten, lalu memberikan kesempatan kepada anak untuk makan tanpa tekanan. Jika anak menunjukkan tanda kenyang, hormati sinyal tersebut.
Apabila waktu makan selalu berlangsung sangat lama hingga asupan tidak mencukupi, jangan sekadar mempersingkat durasi atau memaksa anak makan lebih cepat. Cari tahu terlebih dahulu penyebab yang mendasarinya.
7. Amati dan Catat Kebiasaan Makan Anak
Catat berapa lama anak biasanya makan, jenis makanan yang dikonsumsi, gangguan yang muncul, serta apakah terdapat keluhan ketika mengunyah atau menelan.
Perhatikan juga perubahan berat badan, energi, dan aktivitas anak. Catatan ini dapat membantu orang tua mengenali pola serta memberikan informasi yang lebih jelas saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Jika kesulitan berlangsung terus-menerus, informasi tersebut dapat membantu menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan medis, penilaian gizi, atau evaluasi keterampilan makan.
Berapa Lama Waktu Makan Anak yang Dianggap Normal?
Tidak ada satu durasi yang dapat diterapkan secara mutlak kepada semua anak. Waktu makan dapat dipengaruhi oleh usia, keterampilan makan, jenis dan tekstur makanan, ukuran porsi, serta kondisi anak saat itu.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada kecepatan anak dibandingkan anggota keluarga lainnya.
Hal yang lebih penting adalah apakah anak dapat mengunyah dan menelan dengan aman, memperoleh asupan yang memadai, serta menjalani waktu makan tanpa kesulitan yang berulang.
Jika hampir setiap waktu makan berlangsung sangat lama, anak terus-menerus berhenti makan, atau makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi, kondisi tersebut layak dievaluasi lebih lanjut.
Terlebih jika anak membutuhkan waktu lama karena kesulitan mengunyah, menyimpan makanan di dalam mulut, sering tersedak, atau tampak kesakitan. Dalam situasi tersebut, pemeriksaan profesional lebih tepat daripada sekadar meminta anak makan lebih cepat.
Kapan Anak yang Makan Lama Perlu Diperiksakan?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila kebiasaan makan lambat terjadi berulang kali dan mulai mengganggu kecukupan nutrisi atau aktivitas anak.
Tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Berat badan menurun atau pertumbuhan tidak sesuai harapan.
- Anak terus-menerus mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat sedikit.
- Anak kesulitan mengunyah atau menelan makanan.
- Anak sering batuk atau tersedak ketika makan.
- Anak menyimpan makanan di dalam mulut dalam waktu lama.
- Makan disertai nyeri, muntah berulang, atau keluhan fisik lainnya.
- Anak semakin membatasi jenis makanan yang bersedia dikonsumsi.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas, tersedak berat, tidak mampu menelan cairan, sangat lemas, sulit dibangunkan, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat, segera cari pertolongan medis.
Dokter dapat membantu mengevaluasi kemungkinan penyebab medis dan kebutuhan pemeriksaan lanjutan. Jika diperlukan, ahli gizi atau tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam keterampilan makan anak dapat dilibatkan sesuai hasil evaluasi.
Alamat: Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya.
WhatsApp: 085123333708























