SURABAYA — Ketika membawa anak untuk berkonsultasi dengan terapis, sebagian orang tua mungkin masih bingung harus mulai bercerita dari mana. Ada yang hanya menyampaikan keluhan utama, seperti anak sering tantrum, mudah marah, sulit makan, takut, sulit belajar, atau tidak mau mengikuti arahan.
Padahal, informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi anak dapat membantu proses konsultasi berjalan lebih terarah. Bukan hanya tentang perilaku yang terlihat, tetapi juga mengenai kapan masalah mulai muncul, situasi yang memicunya, bagaimana respons anak dan orang tua, hingga perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam evaluasi anak, informasi mengenai masalah saat ini, riwayat kesehatan dan perkembangan, kondisi keluarga, sekolah, hubungan sosial, serta pola perilaku dapat menjadi bagian penting untuk memahami kondisi anak secara menyeluruh.
Lalu, apa saja yang sebaiknya diceritakan orang tua kepada terapis anak?
1. Ceritakan Keluhan Utama Secara Jelas
Hal pertama yang perlu disampaikan adalah masalah utama yang membuat orang tua mencari bantuan.
Misalnya:
- Anak sering tantrum.
- Anak mudah marah.
- Anak sulit makan.
- Anak sering menangis tanpa alasan yang jelas.
- Anak takut bertemu orang tertentu.
- Anak sulit berkonsentrasi saat belajar.
- Anak sering membantah.
- Anak mengalami perubahan perilaku.
- Anak menjadi lebih pendiam atau menarik diri.
Orang tua tidak perlu menggunakan istilah psikologis atau istilah medis yang rumit.
Cukup ceritakan apa yang memang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, daripada mengatakan “anak saya mengalami gangguan regulasi emosi”, orang tua bisa menjelaskan, “Belakangan ini anak mudah sekali marah. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, dia bisa menangis, berteriak, bahkan melempar barang.”
Cerita seperti ini justru memberikan gambaran yang lebih konkret.
2. Jelaskan Sejak Kapan Masalah Mulai Terlihat
Terapis juga perlu mengetahui kapan perubahan perilaku mulai muncul.
Apakah masalah tersebut sudah terjadi sejak anak kecil atau baru muncul beberapa bulan terakhir?
Misalnya:
“Sebelumnya anak biasa saja. Setelah pindah sekolah, dia mulai takut bertemu orang baru.”
Atau:
“Dulu anak masih mau makan nasi. Sekitar beberapa bulan terakhir, setiap melihat nasi dia langsung menolak.”
Informasi mengenai waktu dan perubahan kondisi dapat membantu melihat hubungan antara keluhan dengan peristiwa atau perubahan tertentu dalam kehidupan anak.
Dalam penilaian anak, riwayat perkembangan dan faktor yang berlangsung dalam jangka panjang maupun pemicu yang muncul lebih baru sama-sama dapat menjadi bagian dari proses memahami masalah.
3. Ceritakan Situasi yang Biasanya Memicu Masalah
Satu perilaku bisa muncul dalam situasi yang berbeda.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengatakan “anak saya sering tantrum”, tetapi juga menjelaskan kapan tantrum biasanya terjadi.
Contohnya:
- Saat diminta berhenti bermain.
- Ketika gadget diambil.
- Saat diminta belajar.
- Ketika makanan yang disukai tidak tersedia.
- Saat bertemu orang baru.
- Ketika harus pergi ke sekolah.
- Ketika keinginannya ditolak.
Perhatikan juga apa yang biasanya terjadi sebelum perilaku tersebut muncul.
Pemahaman mengenai pemicu atau situasi sebelum perilaku dapat membantu orang tua dan tenaga profesional melihat pola yang mungkin berkaitan dengan perilaku anak.
4. Jelaskan Seberapa Sering dan Seberapa Intens Masalah Terjadi
Kata “sering” bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.
Karena itu, akan lebih membantu jika orang tua memberikan gambaran yang lebih spesifik.
Misalnya:
“Dalam satu minggu terakhir, tantrum terjadi hampir setiap hari.”
Atau:
“Biasanya berlangsung sekitar 10–15 menit.”
Orang tua juga dapat menjelaskan apa yang dilakukan anak ketika masalah terjadi.
Apakah anak menangis, berteriak, memukul, melempar barang, diam, menghindar, atau melakukan tindakan lainnya?
Informasi mengenai frekuensi, intensitas, durasi, dan situasi munculnya perilaku merupakan bagian penting dalam memahami masalah anak.
5. Ceritakan Apa yang Dilakukan Orang Tua Saat Masalah Terjadi
Tidak perlu merasa takut akan dihakimi.
Terapis membutuhkan informasi mengenai respons orang tua karena cara lingkungan merespons perilaku anak juga menjadi bagian dari gambaran situasi.
Misalnya:
“Kalau anak tantrum, biasanya saya langsung membentak.”
Atau:
“Kalau anak menangis, biasanya saya membujuk sampai dia tenang.”
Bisa juga:
“Kalau anak menolak belajar, akhirnya saya biarkan bermain.”
Sampaikan apa adanya.
Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memahami pola interaksi antara anak dan lingkungan di sekitarnya.
Proses penilaian yang baik seharusnya memberikan ruang bagi orang tua untuk menceritakan kondisi anak secara terbuka, bukan membuat orang tua merasa disalahkan.
6. Ceritakan Perubahan yang Terjadi pada Anak
Perubahan kecil terkadang justru penting untuk disampaikan.
Misalnya anak yang sebelumnya aktif kemudian menjadi pendiam, lebih mudah marah, kehilangan minat bermain, mengalami perubahan pola tidur atau makan, atau mulai mengalami kesulitan di sekolah.
Orang tua dapat membandingkan:
Sebelumnya:
Anak senang bermain bersama teman.
Sekarang:
Anak lebih sering menyendiri dan menolak bermain.
Perubahan seperti ini dapat memberikan gambaran mengenai kondisi anak dari waktu ke waktu.
7. Jangan Lupa Ceritakan Kondisi di Rumah dan Sekolah
Anak berada di lebih dari satu lingkungan.
Karena itu, perilaku anak di rumah belum tentu sama dengan perilakunya di sekolah atau lingkungan sosial.
Ceritakan jika ada informasi dari guru, wali kelas, pengasuh, atau anggota keluarga lain yang sering berinteraksi dengan anak.
Misalnya:
- Apakah anak mengalami kesulitan belajar?
- Apakah ada perubahan prestasi?
- Apakah anak memiliki masalah dengan teman?
- Apakah anak sering mendapatkan teguran?
- Apakah anak lebih tenang di sekolah tetapi sulit di rumah?
- Atau justru sebaliknya?
Informasi dari lingkungan yang berbeda dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap karena anak dapat menunjukkan perilaku berbeda tergantung situasinya.
8. Ceritakan Riwayat Kesehatan dan Perkembangan Anak
Jika relevan dengan keluhan, orang tua sebaiknya menyampaikan informasi mengenai riwayat kesehatan dan perkembangan anak.
Misalnya:
- Riwayat penyakit tertentu.
- Pengobatan yang sedang atau pernah dijalani.
- Riwayat pemeriksaan sebelumnya.
- Perkembangan bicara.
- Perkembangan motorik.
- Pola tidur.
- Pola makan.
- Kondisi kesehatan tertentu yang pernah dialami.
Dalam evaluasi anak secara komprehensif, riwayat kesehatan, pengobatan, perkembangan, sekolah, keluarga, serta kondisi sosial dapat menjadi informasi yang perlu dipertimbangkan.
Jika anak sebelumnya sudah pernah mendapatkan penanganan dari dokter, psikolog, psikiater, terapis, atau profesional lain, informasi tersebut juga sebaiknya disampaikan secara jujur.
9. Ceritakan Perubahan atau Peristiwa Penting dalam Kehidupan Anak
Terkadang perubahan perilaku muncul setelah adanya perubahan besar dalam kehidupan anak.
Misalnya:
- Pindah sekolah.
- Pindah rumah.
- Kelahiran adik.
- Perpisahan orang tua.
- Kehilangan orang terdekat.
- Konflik di lingkungan sosial.
- Pengalaman yang membuat anak takut.
- Perubahan pola pengasuhan.
Bukan berarti setiap perubahan pasti menjadi penyebab masalah.
Namun, informasi tersebut dapat membantu terapis memahami konteks kehidupan anak secara lebih menyeluruh.
10. Ceritakan Apa Saja yang Sudah Pernah Dilakukan
Orang tua juga sebaiknya menjelaskan upaya yang sudah pernah dilakukan sebelum datang berkonsultasi.
Contohnya:
“Kami sudah mencoba membuat jadwal makan.”
“Sudah beberapa kali diberi nasihat.”
“Sudah mencoba mengurangi gadget.”
“Sudah mencoba memberikan reward.”
“Sudah pernah konsultasi dengan profesional lain.”
Informasi ini membantu terapis mengetahui pendekatan apa yang sudah pernah dicoba dan bagaimana respons anak terhadapnya.
11. Sampaikan Harapan Orang Tua Secara Realistis
Orang tua tentu berharap anak mengalami perubahan.
Namun, penting untuk menyampaikan tujuan konsultasi secara jelas.
Misalnya:
“Kami ingin anak lebih mampu mengelola emosinya.”
“Kami ingin memahami kenapa anak sangat takut pergi ke sekolah.”
“Kami ingin membantu anak lebih nyaman saat makan.”
Tujuan yang jelas dapat menjadi bahan diskusi antara orang tua dan terapis mengenai pendekatan serta langkah yang sesuai.
Orang tua juga perlu memahami bahwa proses pendampingan anak tidak selalu menghasilkan perubahan secara instan. Bentuk, durasi, dan kebutuhan pendampingan dapat berbeda pada setiap anak.
12. Jangan Menyembunyikan Informasi karena Takut Dianggap Salah
Salah satu hal terpenting dalam konsultasi adalah kejujuran.
Orang tua mungkin merasa malu ketika harus menceritakan bahwa mereka sering memarahi anak, pernah kehilangan kesabaran, atau merasa kewalahan menghadapi perilaku anak.
Namun, informasi tersebut tetap penting untuk disampaikan.
Terapis membutuhkan gambaran yang sebenarnya, bukan cerita yang dibuat terlihat sempurna.
Semakin lengkap konteks yang diberikan, semakin baik pula kesempatan profesional untuk memahami masalah yang sedang dihadapi anak.
Apakah Semua Informasi Harus Diceritakan Sekaligus?
Tidak selalu.
Orang tua tidak harus mengingat setiap kejadian secara detail sejak awal.
Yang penting, sampaikan informasi utama terlebih dahulu. Jika ada bagian yang belum diketahui atau lupa, orang tua dapat menyampaikannya kemudian ketika terapis mengajukan pertanyaan lanjutan.
Bahkan, orang tua dapat membuat catatan sederhana sebelum konsultasi:
Keluhan utama:
Anak sering tantrum.
Mulai terjadi:
Sekitar tiga bulan terakhir.
Pemicu:
Biasanya ketika gadget diminta untuk disimpan.
Respons anak:
Menangis, berteriak, dan kadang melempar barang.
Respons orang tua:
Biasanya membujuk atau memarahi.
Yang sudah dicoba:
Mengurangi waktu bermain gadget.
Catatan sederhana seperti ini dapat membuat orang tua lebih mudah menyampaikan kondisi anak secara runtut.
Jangan Hanya Menceritakan Masalah, Ceritakan Juga Kekuatan Anak
Anak bukan hanya kumpulan masalah atau perilaku yang perlu diperbaiki.
Ceritakan juga hal-hal positif yang dimiliki anak.
Misalnya:
- Anak sebenarnya mudah bergaul.
- Anak kreatif.
- Anak senang menggambar.
- Anak sangat dekat dengan orang tua.
- Anak memiliki minat tertentu.
- Anak mudah mengikuti arahan dalam situasi tertentu.
- Anak menunjukkan perubahan positif ketika mendapatkan pendekatan tertentu.
Dalam proses memahami kondisi anak, kekuatan dan kemampuan anak juga penting diperhatikan, bukan hanya gejala atau perilaku yang menjadi keluhan.
Apa yang Perlu Ditanyakan Orang Tua kepada Terapis?
Konsultasi sebaiknya menjadi komunikasi dua arah.
Selain bercerita, orang tua juga berhak bertanya mengenai proses yang akan dijalani.
Beberapa pertanyaan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Apa yang menjadi fokus pendampingan anak?
- Bagaimana proses konsultasinya?
- Apa tujuan yang ingin dicapai?
- Bagaimana orang tua akan dilibatkan?
- Bagaimana perkembangan anak akan dievaluasi?
- Berapa lama proses pendampingan diperkirakan berlangsung?
- Kapan perlu dilakukan evaluasi atau rujukan ke profesional lain?
Pertanyaan mengenai pengalaman, tujuan pendampingan, keterlibatan orang tua, serta cara mengevaluasi perkembangan juga merupakan hal yang layak dibicarakan sebelum memulai layanan untuk anak.
Memahami Anak Dimulai dari Cerita yang Utuh
Ketika orang tua membawa anak untuk berkonsultasi, yang dibutuhkan bukan cerita yang sempurna.
Yang lebih penting adalah cerita yang jujur, lengkap, dan sesuai kondisi sebenarnya.
Tantrum, sulit makan, mudah marah, takut, sulit belajar, atau perubahan perilaku merupakan hal yang terlihat dari luar. Di baliknya, setiap anak memiliki pengalaman, lingkungan, pola interaksi, dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, jangan hanya mengatakan:
“Anak saya nakal.”
Cobalah ceritakan:
“Perilaku apa yang muncul, kapan terjadi, apa yang biasanya mendahuluinya, bagaimana anak merespons, dan apa yang sudah kami lakukan.”
Dari situlah percakapan yang lebih bermakna dapat dimulai.
Hipnoterapi Anak Surabaya by Rumah Hebat
Bagi orang tua di Surabaya yang ingin memahami kondisi anak secara lebih mendalam, Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat menyediakan ruang konsultasi dan pendampingan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pendekatan yang digunakan meliputi Hipnoterapi, NLP (Neuro-Linguistic Programming), dan Mind Shifting, dengan perhatian pada pola pikir, respons emosi, kebiasaan, serta kebutuhan anak.
Orang tua dapat menceritakan kondisi anak secara terbuka terlebih dahulu untuk membantu menentukan langkah yang sesuai.
Jangan hanya melihat perilakunya. Pahami ceritanya, kenali kebutuhannya, dan mulai perubahan dari dalam.
Untuk informasi dan konsultasi, hubungi Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat melalui WhatsApp 0851-2333-3708.
Alamat: Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Karangpilang, Surabaya.























