SURABAYA — Setiap anak memiliki fase perkembangan yang berbeda. Ada kalanya anak mudah marah, sulit mengikuti aturan, takut terhadap sesuatu, mengalami perubahan kebiasaan, atau menunjukkan perilaku yang membuat orang tua bingung.
Sebagian perilaku tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Namun, ketika masalah berlangsung cukup lama, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu kehidupan anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial, orang tua biasanya mulai mencari bantuan profesional.
Tidak sedikit orang tua yang akhirnya membawa anak berkonsultasi dengan terapis karena merasa berbagai cara yang sudah dilakukan di rumah belum memberikan perubahan yang diharapkan.
Masalahnya pun beragam. Mulai dari persoalan emosi, perilaku, rasa takut, kecemasan, kebiasaan, hingga kesulitan beradaptasi.
American Academy of Pediatrics mencatat bahwa masalah kesehatan mental pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk kecemasan, perilaku mengganggu atau agresif, impulsivitas dan kesulitan perhatian, kesulitan belajar, serta masalah suasana hati.
Mengapa Orang Tua Membawa Anak ke Terapis?
Keputusan mencari bantuan profesional biasanya muncul ketika orang tua merasa ada perubahan yang cukup signifikan pada anak.
Misalnya, anak yang sebelumnya mudah diajak berkomunikasi tiba-tiba menjadi sangat tertutup. Anak yang sebelumnya menikmati sekolah mulai menolak berangkat. Atau anak yang sebelumnya relatif tenang menjadi lebih mudah marah dan sering mengalami ledakan emosi.
Namun, penting untuk dipahami bahwa membawa anak ke terapis bukan berarti anak pasti memiliki gangguan tertentu.
Konsultasi dapat menjadi langkah untuk memahami masalah dengan lebih baik, melihat kemungkinan faktor yang memengaruhi perilaku anak, dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
CDC juga menyarankan orang tua yang memiliki kekhawatiran mengenai kondisi mental atau perilaku anak untuk membicarakannya dengan tenaga kesehatan atau profesional yang sesuai agar anak dapat memperoleh evaluasi yang tepat.
1. Anak Sering Tantrum dan Sulit Mengendalikan Emosi
Tantrum merupakan bagian yang cukup umum dalam perkembangan anak, terutama pada usia tertentu.
Namun, orang tua mulai mencari bantuan ketika tantrum terasa semakin sulit dikendalikan.
Misalnya:
- anak sering berteriak;
- menangis dalam waktu lama;
- melempar barang;
- memukul;
- sulit ditenangkan;
- mudah meledak karena hal kecil;
- atau tantrum mulai mengganggu aktivitas keluarga.
Perilaku marah atau menentang sesekali memang dapat terjadi pada anak. Yang perlu diperhatikan adalah ketika perilaku tersebut tidak sesuai dengan tahap usia, berlangsung terus-menerus, atau menjadi sangat berat.
Dalam kondisi seperti ini, orang tua dapat mencari bantuan untuk memahami apa yang memicu perilaku tersebut dan bagaimana meresponsnya secara tepat.
2. Anak Mudah Marah dan Sering Membantah
“Dibilangin berkali-kali tetap nggak mau.”
Keluhan seperti ini cukup sering membuat orang tua merasa kewalahan.
Anak mungkin menolak aturan, membantah orang tua, mudah tersulut emosi, atau terus melakukan hal yang sebenarnya sudah dilarang.
Namun, perilaku membantah tidak selalu berarti anak sengaja ingin melawan.
Ada kemungkinan faktor lain yang perlu diperhatikan, seperti pola komunikasi di rumah, kesulitan mengelola emosi, perubahan lingkungan, kebutuhan anak yang belum tersampaikan, atau faktor perkembangan tertentu.
Karena itu, pendekatan yang hanya berfokus pada “bagaimana membuat anak menurut” belum tentu cukup.
Yang juga penting adalah memahami mengapa perilaku tersebut muncul.
3. Anak Mengalami Kecemasan atau Ketakutan Berlebihan
Rasa takut dan khawatir merupakan bagian dari perkembangan anak.
Namun, ketika ketakutan semakin kuat hingga membuat anak menghindari sekolah, aktivitas tertentu, bertemu orang lain, atau berpisah dari orang tua, kondisi tersebut layak diperhatikan.
Kecemasan pada anak dapat muncul dalam bentuk rasa takut, kekhawatiran yang sulit dikendalikan, penghindaran, sulit tidur, hingga keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.
Contohnya:
“Bunda, aku nggak mau sekolah.”
“Aku takut ketemu orang.”
“Aku takut tidur sendiri.”
Jika pola tersebut terus terjadi dan mulai mengganggu aktivitas anak, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan profesional.
4. Anak Sulit Beradaptasi dengan Lingkungan Baru
Tidak semua anak langsung nyaman dengan perubahan.
Pindah sekolah, pindah rumah, memiliki lingkungan pertemanan baru, atau menghadapi perubahan dalam keluarga dapat membutuhkan proses adaptasi.
Namun, sebagian anak dapat mengalami kesulitan yang lebih besar.
Anak mungkin menjadi:
- lebih pendiam;
- mudah menangis;
- menolak lingkungan baru;
- sulit berpisah dengan orang tua;
- tidak mau berinteraksi;
- atau terus meminta kembali ke lingkungan sebelumnya.
Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat membantu anak memahami perubahan secara bertahap.
Jika kesulitan beradaptasi berlangsung lama dan mengganggu keseharian, konsultasi dapat membantu mencari tahu faktor yang membuat anak kesulitan.
5. Anak Mengalami Masalah di Sekolah
Masalah sekolah merupakan salah satu alasan lain orang tua mencari bantuan.
Keluhannya dapat berupa:
- anak tidak mau sekolah;
- sulit berkonsentrasi;
- sering menolak mengerjakan tugas;
- prestasi menurun;
- takut menghadapi guru;
- bermasalah dengan teman;
- atau kehilangan minat belajar.
AAP mencatat bahwa kecemasan, masalah perhatian, perilaku mengganggu, dan kesulitan belajar dapat menjadi manifestasi masalah kesehatan mental pada anak usia sekolah dan remaja.
Namun, masalah belajar tidak selalu berasal dari faktor emosional.
Kesulitan akademik juga dapat berkaitan dengan faktor pembelajaran, lingkungan sekolah, kondisi kesehatan, kebutuhan pendidikan tertentu, atau faktor lainnya.
Karena itu, evaluasi yang tepat tetap diperlukan.
6. Anak Mengalami Kesulitan Konsentrasi
“Anaknya sebenarnya pintar, tapi kok susah fokus?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dari orang tua.
Anak mungkin mudah terdistraksi, tidak menyelesaikan tugas, berpindah-pindah aktivitas, atau kesulitan mengikuti instruksi.
Kesulitan konsentrasi dapat muncul karena berbagai alasan.
Kurang tidur, stres, kecemasan, masalah belajar, lingkungan yang terlalu banyak distraksi, maupun kondisi perkembangan tertentu dapat memengaruhi perhatian anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label seperti “malas” atau “tidak mau belajar”.
Lebih baik mencari tahu apa yang sebenarnya menyebabkan anak mengalami kesulitan tersebut.
7. Anak Sulit Makan atau Mengalami Perubahan Pola Makan
Masalah makan juga dapat menjadi sumber kekhawatiran orang tua.
Terutama ketika setiap waktu makan berubah menjadi konflik.
Misalnya:
- anak sangat pilih-pilih makanan;
- menolak jenis makanan tertentu;
- takut mencoba makanan baru;
- mudah mual;
- menangis ketika melihat makanan tertentu;
- atau pola makannya berubah secara signifikan.
Masalah makan pada anak memiliki banyak kemungkinan penyebab, sehingga tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah masalah psikologis.
Jika terdapat perubahan pola makan yang signifikan, terutama apabila memengaruhi pertumbuhan atau kondisi fisik anak, evaluasi medis juga penting.
AAP mencatat bahwa masalah makan dapat muncul bersama sejumlah persoalan emosional dan perilaku pada anak, tetapi penyebabnya perlu dilihat secara menyeluruh.
8. Anak Sering Menangis atau Terlihat Lebih Sedih
Anak dapat menangis karena kecewa, lelah, takut, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Namun, orang tua perlu lebih peka ketika anak yang biasanya ceria berubah menjadi lebih sering sedih, mudah menangis, kehilangan minat bermain, atau lebih banyak menghabiskan waktu sendiri.
Perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami depresi.
Namun, kesedihan yang menetap, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, perubahan tidur dan makan, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari merupakan tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.
9. Anak Menjadi Lebih Pendiam dan Menarik Diri
Perubahan karakter juga dapat menjadi alasan orang tua mencari bantuan.
Anak yang sebelumnya senang bermain tiba-tiba lebih sering menyendiri.
Anak yang biasanya banyak bicara menjadi sangat pendiam.
Anak mulai menghindari teman atau tidak tertarik mengikuti kegiatan yang sebelumnya disukai.
AAP memasukkan semakin sering menyendiri dan menghindari aktivitas karena takut atau cemas sebagai tanda yang dapat menunjukkan kebutuhan akan dukungan lebih lanjut.
Yang penting bukan sekadar melihat bahwa anak sedang ingin sendiri, tetapi melihat apakah terdapat perubahan pola yang signifikan.
10. Anak Mengalami Gangguan Tidur
Masalah tidur juga sering membuat orang tua khawatir.
Contohnya:
- anak sulit tidur;
- sering terbangun;
- takut tidur sendiri;
- sering mengalami mimpi buruk;
- tidur jauh lebih banyak;
- atau terlihat lelah pada siang hari.
Perubahan tidur dapat memiliki banyak penyebab, termasuk faktor fisik, kebiasaan, lingkungan, maupun kondisi emosional.
Karena itu, perubahan tersebut perlu dilihat bersama gejala atau perubahan lain yang terjadi pada anak.
11. Anak Memiliki Rasa Percaya Diri yang Rendah
Sebagian orang tua mencari pendampingan karena melihat anak semakin tidak percaya diri.
Anak mungkin sering mengatakan:
“Aku nggak bisa.”
“Aku pasti gagal.”
“Aku nggak sebagus teman-temanku.”
“Aku takut salah.”
Jika berlangsung terus-menerus, pola pikir seperti ini dapat memengaruhi keberanian anak untuk mencoba sesuatu, berinteraksi dengan teman, maupun mengikuti kegiatan sekolah.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya hasil akhirnya.
Jika rasa takut gagal atau rendah diri semakin menghambat aktivitas anak, konsultasi dapat menjadi salah satu langkah untuk memahami kondisi tersebut.
12. Anak Mengalami Perubahan Setelah Pengalaman Tertentu
Ada kalanya masalah anak muncul setelah sebuah peristiwa.
Misalnya:
- pindah sekolah;
- konflik keluarga;
- kehilangan orang terdekat;
- pengalaman menakutkan;
- perundungan;
- perubahan besar di rumah;
- atau pengalaman lain yang membuat anak merasa tidak aman.
Tidak semua anak menunjukkan respons yang sama.
Ada yang menjadi marah.
Ada yang menangis.
Ada yang menarik diri.
Ada pula yang tampak baik-baik saja tetapi mengalami perubahan dalam tidur, makan, konsentrasi, atau aktivitasnya.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan anak secara keseluruhan.
13. Anak Mengalami Keluhan Fisik yang Berulang
Terkadang anak datang kepada orang tua bukan dengan kalimat:
“Aku sedang cemas.”
Tetapi dengan:
“Perutku sakit.”
“Kepalaku pusing.”
“Aku nggak enak badan.”
Keluhan fisik harus tetap diperiksa dari sisi medis.
Namun, AAP mencatat bahwa anak dengan masalah mental tertentu juga dapat menunjukkan gejala somatik seperti sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau keluhan fisik lainnya.
Karena itu, ketika keluhan fisik terus berulang terutama dalam situasi tertentu, orang tua dapat mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan untuk melihat kemungkinan penyebab secara lebih lengkap.
Apakah Semua Masalah Anak Harus Dibawa ke Terapis?
Tidak selalu.
Anak memang akan mengalami berbagai tantangan dalam proses tumbuh kembangnya.
Tantrum sesekali, takut terhadap sesuatu, sedih, sulit mengikuti aturan, atau mengalami perubahan suasana hati tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan.
Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah:
Apakah masalah tersebut berlangsung lama?
Apakah frekuensinya semakin sering?
Apakah intensitasnya semakin berat?
Apakah mengganggu sekolah, tidur, makan, bermain, atau hubungan sosial?
Apakah berbagai cara yang dilakukan di rumah belum membantu?
CDC menjelaskan bahwa gejala yang berat dan menetap serta mengganggu aktivitas di rumah, sekolah, atau bermain perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Dengan kata lain, keputusan mencari bantuan sebaiknya tidak hanya berdasarkan satu perilaku anak.
Apa yang Perlu Orang Tua Siapkan Sebelum Membawa Anak ke Terapis?
Sebelum konsultasi, orang tua dapat mencatat beberapa informasi sederhana.
Kapan masalah mulai muncul?
Catat kira-kira kapan perubahan perilaku atau emosi mulai terlihat.
Dalam situasi apa masalah biasanya muncul?
Misalnya saat belajar, makan, tidur, berangkat sekolah, bertemu orang tertentu, atau ketika mendapatkan larangan.
Seberapa sering terjadi?
Apakah terjadi setiap hari, beberapa kali dalam seminggu, atau hanya pada situasi tertentu?
Apa respons orang tua selama ini?
Informasi ini dapat membantu profesional memahami pola interaksi yang terjadi.
Apakah ada perubahan lain?
Perhatikan tidur, makan, sekolah, pertemanan, kebiasaan, maupun suasana hati anak.
Informasi yang lebih lengkap dapat membantu proses konsultasi menjadi lebih terarah.
Jangan Hanya Melihat Perilakunya, Pahami Anak Secara Menyeluruh
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah hanya melihat apa yang dilakukan anak.
Anak tantrum dianggap nakal.
Anak tidak mau belajar dianggap malas.
Anak takut dianggap cengeng.
Anak tidak mau makan dianggap keras kepala.
Anak diam dianggap tidak peduli.
Padahal, perilaku merupakan salah satu bagian dari cerita.
Ada kemungkinan terdapat kebutuhan, emosi, pengalaman, atau faktor lingkungan yang perlu dipahami.
AAP dalam laporan terbarunya mendorong pendekatan yang melihat perkembangan mental dan emosional anak secara lebih luas, termasuk konteks lingkungan dan hubungan anak dengan keluarga, bukan hanya mencari satu penyebab dari satu perilaku.
Karena itu, tujuan pendampingan bukan sekadar membuat anak “menurut”.
Tujuan yang lebih penting adalah memahami kondisi anak dan membantu menemukan langkah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Hipnoterapi Anak di Surabaya sebagai Salah Satu Pendekatan Pendampingan
Bagi orang tua yang sedang mencari terapis anak di Surabaya, penting untuk memahami terlebih dahulu jenis masalah yang sedang dihadapi anak dan pendekatan apa yang sesuai.
Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat menyediakan layanan dengan pendekatan Hipnoterapi, NLP (Neuro-Linguistic Programming), dan Mind Shifting yang disesuaikan dengan kebutuhan individu yang dikonsultasikan.
Pendekatan dilakukan dengan melihat kondisi dan kebutuhan individu, bukan sekadar memberikan label berdasarkan perilaku yang terlihat.
Beberapa keluhan yang dapat dikonsultasikan antara lain masalah emosi, ketakutan, kecemasan, kebiasaan tertentu, kesulitan beradaptasi, masalah perilaku, maupun keluhan lain yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut.
Namun, penting untuk dipahami bahwa hipnoterapi bukan pengganti diagnosis atau penanganan medis dan psikologis. Jika kondisi anak membutuhkan evaluasi dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga profesional lainnya, orang tua sebaiknya mendapatkan penanganan dari pihak yang sesuai.
Jangan Tunggu Sampai Masalah Anak Semakin Berat
Bunda tidak harus langsung mengetahui semua jawabannya.
Tidak harus langsung tahu kenapa anak berubah.
Tidak harus langsung tahu metode apa yang paling tepat.
Yang penting, jangan abaikan ketika anak mulai menunjukkan perubahan yang terus berulang dan mengganggu kesehariannya.
Cari tahu.
Dengarkan.
Pahami.
Kemudian pilih langkah pendampingan yang sesuai.
Konsultasikan Keluhan Anak Bersama Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat
Jika Bunda sedang menghadapi masalah anak yang sulit dipahami atau berbagai cara di rumah belum memberikan perubahan yang diharapkan, jangan hanya terus memarahi perilakunya. Cari tahu apa yang ada di baliknya.
Konsultasikan keluhan anak bersama Hipnoterapi Surabaya by Rumah Hebat dan mulai pahami kebutuhan anak dengan pendekatan yang sesuai.
📍 Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Karangpilang, Surabaya























