SURABAYA – Gerakan tutup mulut pada anak atau yang lebih dikenal dengan istilah GTM merupakan salah satu tantangan yang kerap dihadapi orang tua saat memberikan makanan. Anak bisa mengatupkan mulut ketika disuapi, memalingkan wajah, mendorong piring, hingga menolak makanan yang sebelumnya biasa dikonsumsi.
Situasi ini tidak jarang membuat orang tua khawatir, terutama ketika anak terlihat hanya makan sedikit atau menolak hampir setiap menu yang disajikan. Berbagai cara pun dicoba, mulai dari mengalihkan perhatian dengan video hingga membujuk anak agar mau menghabiskan makanannya.
Namun, menghadapi GTM tidak cukup hanya dengan membuat anak membuka mulut. Orang tua perlu memahami alasan di balik penolakan tersebut agar dapat menentukan pendekatan yang sesuai.
Lantas, apa penyebab gerakan tutup mulut pada anak dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasan mengenai faktor yang dapat memicu GTM, langkah yang bisa dilakukan di rumah, serta kondisi yang memerlukan bantuan tenaga kesehatan.
Apa Itu Gerakan Tutup Mulut pada Anak?
Gerakan tutup mulut (GTM) merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak ketika menolak makanan, misalnya dengan mengatupkan mulut, memalingkan kepala, atau menepis sendok saat disuapi.
GTM bukan diagnosis medis tersendiri. Perilaku ini dapat muncul karena berbagai faktor, termasuk perubahan nafsu makan, preferensi terhadap makanan tertentu, pengalaman makan yang kurang menyenangkan, atau masalah kesehatan.
Pada sebagian anak, penolakan makan terjadi sesekali dan tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan gizinya. Namun, jika anak terus menolak makan hingga asupannya tidak mencukupi, kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut.
Karena penyebabnya bisa berbeda-beda, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap GTM sebagai bentuk kenakalan atau perilaku anak yang sengaja ingin membuat orang tua kesal.
Penyebab Gerakan Tutup Mulut pada Anak
Memahami penyebab GTM menjadi langkah awal untuk menentukan solusi yang tepat. Berikut beberapa faktor yang dapat memengaruhi perilaku makan anak.
1. Anak Sedang Memasuki Fase Perkembangan
Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengembangkan kemandirian, termasuk dalam menentukan makanan yang ingin dikonsumsi. Anak mungkin ingin memegang sendok sendiri, memilih menu, atau menolak ketika orang tua terlalu banyak mengatur proses makan.
Perubahan nafsu makan juga dapat terjadi karena laju pertumbuhan tidak selalu sama pada setiap tahap perkembangan. Akibatnya, jumlah makanan yang diinginkan anak bisa berubah dari waktu ke waktu.
Dalam situasi ini, orang tua dapat memberikan pilihan yang terbatas tetapi tetap sehat, seperti menawarkan dua jenis lauk yang sesuai dengan kebutuhan anak.
2. Anak Tidak Menyukai Rasa, Aroma, atau Tekstur Makanan
Sebagian anak lebih sensitif terhadap karakteristik makanan tertentu. Mereka mungkin menolak sayuran yang bertekstur lembek, daging yang terasa alot, makanan beraroma kuat, atau menu dengan tampilan yang berbeda dari biasanya.
Penolakan ini tidak selalu berarti anak tidak lapar. Bisa jadi, anak merasa tidak nyaman dengan pengalaman sensoris yang muncul ketika melihat, menyentuh, mencium, atau mengunyah makanan tersebut.
Orang tua dapat mencoba menyajikan makanan dengan tekstur yang sesuai kemampuan makan anak, sambil mengenalkan variasi secara bertahap. Hindari memaksa anak mencicipi makanan yang membuatnya sangat tidak nyaman.
3. Anak Terlalu Banyak Mengonsumsi Camilan atau Minuman Mengenyangkan
Kebiasaan mengonsumsi camilan sepanjang hari atau minum susu dalam jumlah besar menjelang waktu makan dapat membuat anak tidak cukup lapar ketika makanan utama disajikan.
Kondisi ini bisa membuat anak hanya makan beberapa suap, kemudian kembali meminta camilan atau minuman favoritnya.
Untuk membantu membentuk pola makan yang lebih teratur, orang tua dapat menetapkan jadwal makan utama dan camilan. Kebutuhan susu tetap perlu diperhatikan sesuai usia anak, tetapi waktu dan jumlah pemberiannya sebaiknya tidak sampai menggantikan makanan utama secara berlebihan.
4. Pengalaman Makan Terasa Menekan
Waktu makan yang dipenuhi ancaman, bentakan, atau paksaan dapat membuat anak mengaitkan kegiatan makan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Misalnya, anak terus diminta menghabiskan makanan meskipun sudah kenyang, dimarahi ketika menolak sayuran, atau dipaksa membuka mulut setiap kali sendok didekatkan.
Pada sebagian anak, pengalaman tersebut dapat meningkatkan penolakan makan. Karena itu, suasana makan yang tenang dan respons orang tua yang konsisten penting untuk membantu membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan.
5. Anak Sedang Sakit atau Mengalami Ketidaknyamanan Fisik
GTM juga dapat muncul ketika anak sedang tidak sehat. Sariawan, sakit gigi, demam, sembelit, mual, atau keluhan pencernaan dapat mengurangi keinginan anak untuk makan.
Anak yang mengalami nyeri saat mengunyah atau menelan mungkin akan menutup mulut karena mengantisipasi rasa tidak nyaman.
Jika penolakan makan muncul secara mendadak, disertai keluhan fisik, atau berlangsung lebih lama dari biasanya, orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.
6. Anak Mengalami Kesulitan Mengunyah atau Menelan
Pada kondisi tertentu, anak menolak makanan karena mengalami kesulitan dalam mengolah makanan di mulut atau menelannya dengan aman.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi sering tersedak, batuk saat makan atau minum, kesulitan mengunyah, makanan tertahan di dalam mulut, atau muntah berulang ketika mencoba tekstur tertentu.
Tanda-tanda tersebut perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Jangan menganggapnya semata-mata sebagai GTM biasa karena anak mungkin membutuhkan pemeriksaan dan dukungan khusus.
Bagaimana Cara Mengatasi Gerakan Tutup Mulut pada Anak?
Cara mengatasi GTM perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi anak. Jika tidak terdapat tanda bahaya, orang tua dapat mencoba beberapa langkah berikut untuk membangun rutinitas makan yang lebih nyaman.
1. Hindari Memaksa Anak Membuka Mulut
Ketika anak menutup mulut atau memalingkan wajah, hindari memaksa memasukkan sendok, mengancam, atau memarahinya.
Berikan jeda sejenak dan cobalah memahami respons anak. Orang tua tetap dapat menawarkan makanan, tetapi sebaiknya tidak menjadikan setiap suapan sebagai pertarungan.
Pendekatan yang tenang membantu mengurangi tekanan selama waktu makan. Jika anak menunjukkan tanda kesulitan menelan atau tersedak, hentikan pemberian makanan dan cari bantuan yang sesuai.
2. Terapkan Jadwal Makan yang Konsisten
Buat jadwal makan utama dan camilan yang teratur sesuai usia serta kebutuhan anak. Di antara waktu makan, hindari kebiasaan memberikan camilan terus-menerus jika membuat anak tidak lapar saat makanan utama disajikan.
Waktu makan yang terstruktur dapat membantu anak mengenali rutinitas dan kesempatan untuk makan ketika merasa lapar.
Namun, jadwal makan bukan berarti orang tua harus mengabaikan tanda lapar atau haus. Kebutuhan cairan dan kondisi kesehatan anak tetap harus menjadi pertimbangan utama.
3. Sajikan Makanan dalam Porsi Kecil
Porsi makanan yang terlalu besar dapat membuat anak merasa kewalahan, khususnya ketika sedang mengalami penurunan nafsu makan.
Mulailah dengan porsi kecil sesuai usia dan kemampuan makan anak. Jika anak masih ingin makan, tawarkan tambahan tanpa harus menuntutnya menghabiskan seluruh makanan di piring.
Cara ini juga membantu orang tua mengamati makanan yang lebih mudah diterima anak tanpa memberikan tekanan berlebihan.
4. Kenalkan Makanan Baru Secara Bertahap
Anak mungkin membutuhkan beberapa kali kesempatan sebelum bersedia mencoba makanan baru. Penolakan pada kesempatan pertama tidak selalu berarti anak akan selamanya tidak menyukai makanan tersebut.
Orang tua dapat menyajikan makanan baru bersama makanan yang sudah dikenal anak. Berikan kesempatan untuk melihat, mencium, menyentuh, atau mencicipinya sesuai kesiapan anak.
Jika anak belum mau makan, hindari memaksa. Pengenalan berulang dengan cara yang menyenangkan dapat membantu anak menjadi lebih terbiasa terhadap variasi makanan.
5. Libatkan Anak dalam Proses Makan
Untuk anak yang sudah cukup besar, libatkan mereka dalam kegiatan sederhana seperti memilih antara dua menu, mencuci sayuran dengan pengawasan, atau menata makanan di piring.
Keterlibatan ini dapat membuat kegiatan makan terasa lebih menarik dan memberi anak kesempatan untuk mengembangkan kemandirian.
Tetap pastikan pilihan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan gizi dan keamanan makanan anak.
6. Kurangi Distraksi Saat Makan
Menonton video atau bermain gawai selama makan dapat mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dan kenyang. Sebagian anak akhirnya makan hanya ketika terus-menerus dihibur atau disuapi sambil menonton.
Cobalah membangun suasana makan yang lebih tenang, misalnya dengan makan bersama keluarga dan mengajak anak berbicara ringan tentang makanan.
Lakukan perubahan secara bertahap jika anak sudah terbiasa menggunakan gawai selama makan. Hindari menjadikan perubahan ini sebagai hukuman.
7. Perhatikan Respons Anak dan Kecukupan Asupannya
Jangan hanya menilai keberhasilan dari banyaknya suapan yang masuk. Perhatikan juga jenis makanan yang diterima, jumlah minum, energi anak untuk beraktivitas, serta perkembangan berat dan tinggi badannya.
Jika anak semakin membatasi jenis makanan, mengalami penurunan berat badan, atau tidak menunjukkan pertumbuhan yang diharapkan, konsultasikan kondisinya kepada tenaga kesehatan.
Apakah GTM Bisa Hilang dengan Sendirinya?
Pada sebagian anak, penolakan makan dapat berkurang seiring perubahan rutinitas, pengalaman makan yang lebih positif, dan perkembangan kemampuan makan. Namun, tidak semua kasus GTM akan membaik dengan sendirinya.
Jika penyebabnya berkaitan dengan penyakit, nyeri, kesulitan mengunyah atau menelan, maupun masalah makan yang menetap, anak mungkin membutuhkan evaluasi dan penanganan khusus.
Orang tua juga perlu berhati-hati terhadap metode yang menjanjikan GTM pasti hilang dalam waktu singkat. Tidak ada satu pendekatan yang terbukti cocok untuk semua anak karena penyebab dan kebutuhan setiap anak berbeda.
Langkah yang paling tepat adalah mengamati kondisi anak, memperbaiki rutinitas makan bila memungkinkan, dan mencari bantuan profesional ketika masalah tidak membaik atau mulai mengganggu kesehatan maupun tumbuh kembangnya.
Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Tenaga Kesehatan?
GTM perlu mendapatkan perhatian lebih jika penolakan makan terjadi berulang, semakin berat, atau membuat anak sulit memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Pertimbangkan pemeriksaan apabila anak mengalami kondisi berikut:
- Berat badan menurun atau pertumbuhan melambat.
- Pilihan makanan semakin terbatas hingga sulit memenuhi kebutuhan gizi.
- Penolakan makan disertai demam, nyeri, muntah berulang, atau keluhan pencernaan.
- Anak kesulitan mengunyah atau menelan, sering batuk saat makan, maupun tersedak.
- Anak tampak lemas atau aktivitas sehari-harinya terganggu.
Jika anak tidak mampu minum, menunjukkan tanda dehidrasi berat, mengalami kesulitan bernapas, atau sangat lemas hingga sulit dibangunkan, segera cari pertolongan medis.
Pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi penyebab dan menentukan apakah anak memerlukan penanganan medis, dukungan gizi, terapi makan, atau bentuk pendampingan lain yang sesuai.
Apakah Pendampingan Profesional Dapat Membantu Anak yang Mengalami GTM?
Ketika berbagai upaya di rumah belum menunjukkan perubahan, orang tua dapat mempertimbangkan pendampingan profesional sesuai kebutuhan anak.
Langkah pertama tetap penting untuk memastikan apakah terdapat faktor medis atau masalah pertumbuhan yang perlu ditangani. Jika kesulitan makan berkaitan dengan perilaku, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, atau tantangan dalam rutinitas keluarga, pendampingan dapat membantu orang tua memahami pola yang terjadi dan menerapkan strategi yang sesuai.
Bentuk bantuan dapat berbeda pada setiap anak. Sebagian membutuhkan konsultasi dengan dokter atau ahli gizi, sementara anak dengan kesulitan makan tertentu mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut atau dukungan dari tenaga profesional yang memiliki kompetensi terkait.
Tidak semua anak GTM membutuhkan terapi psikologis atau hipnoterapi. Metode pendampingan apa pun sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan asesmen, kebutuhan anak, dan tujuan yang realistis, bukan berdasarkan janji bahwa GTM pasti sembuh.
Alamat: Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya.
WhatsApp : 085123333703.























