SURABAYA — Anak yang hanya mau mengonsumsi makanan tertentu sering membuat orang tua khawatir. Ada anak yang hanya mau makan ayam goreng dan telur, menolak sayuran, atau memilih makanan dengan warna, rasa, dan tekstur yang sama setiap hari. Ketika ditawari menu lain, anak bisa menutup mulut, mendorong piring, bahkan menangis.
Kondisi tersebut kerap disebut picky eating, yaitu perilaku memilih-milih makanan. Pada sebagian anak, perilaku ini merupakan bagian dari proses belajar mengenal makanan. Namun, jika pilihan makanan semakin terbatas hingga memengaruhi kecukupan gizi, pertumbuhan, atau aktivitas sehari-hari, orang tua perlu memberikan perhatian lebih.
Lantas, apa penyebab anak hanya mau makan makanan tertentu? Bagaimana cara menghadapinya tanpa membuat waktu makan menjadi ajang pertengkaran?
Apa Itu Picky Eating pada Anak?
Picky eating adalah perilaku ketika anak cenderung memilih makanan tertentu dan menolak makanan lain. Penolakan dapat dipengaruhi oleh rasa, aroma, tekstur, warna, suhu, maupun pengalaman anak saat mencoba makanan sebelumnya.
Contohnya, anak hanya mau makan nasi dengan telur, menolak sayuran yang bercampur dengan makanan lain, atau hanya menerima makanan dengan tekstur renyah. Ada pula anak yang bersedia makan satu jenis makanan, tetapi menolak makanan serupa jika bentuk atau penyajiannya berubah.
Perilaku pilih-pilih makanan dapat muncul pada masa tumbuh kembang, terutama ketika anak mulai memiliki preferensi dan keinginan untuk menentukan pilihannya sendiri. Meski demikian, tingkat penolakan setiap anak berbeda.
Penting bagi orang tua untuk membedakan perilaku memilih makanan yang masih dapat dikelola dengan kondisi ketika anak menerima sangat sedikit jenis makanan, mengalami kesulitan makan yang menetap, atau menunjukkan tanda gangguan pertumbuhan.
Mengapa Anak Hanya Mau Makan Makanan Tertentu?
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa anak lebih menyukai makanan tertentu dan menolak menu lainnya.
1. Belum Terbiasa dengan Rasa dan Tekstur Baru
Anak membutuhkan waktu untuk mengenal berbagai jenis makanan. Rasa yang asing, tekstur yang berbeda, atau aroma yang lebih kuat dapat membuat anak ragu untuk mencoba.
Makanan yang terasa biasa bagi orang dewasa belum tentu langsung dapat diterima anak. Karena itu, penolakan pada percobaan pertama tidak selalu berarti anak tidak akan pernah menyukainya.
Orang tua dapat memperkenalkan makanan secara bertahap melalui kesempatan berulang tanpa memaksa anak untuk langsung memakannya. Anak dapat mulai dengan melihat, menyentuh, mencium, atau mencicipi sedikit makanan sesuai kesiapan dan kemampuan makannya.
2. Memiliki Sensitivitas terhadap Tekstur, Aroma, atau Tampilan
Sebagian anak menunjukkan preferensi yang kuat terhadap karakteristik sensorik makanan. Mereka mungkin menyukai makanan yang renyah, tetapi menolak makanan lembek, atau menerima makanan dengan warna tertentu dan menghindari makanan dengan tampilan berbeda.
Sensitivitas terhadap karakteristik makanan dapat memengaruhi pengalaman makan anak. Namun, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa anak memiliki gangguan sensorik hanya karena menolak beberapa jenis makanan.
Jika sensitivitas sangat kuat, pilihan makanan semakin terbatas, atau anak mengalami kesulitan mengunyah dan menelan, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan anak.
3. Pengalaman Makan Sebelumnya Kurang Menyenangkan
Pengalaman tidak nyaman saat makan dapat memengaruhi kemauan anak untuk mencoba makanan kembali. Misalnya, anak pernah tersedak, muntah, mengalami nyeri ketika menelan, atau terus-menerus dipaksa menghabiskan makanan.
Akibatnya, anak mungkin mengaitkan waktu makan atau jenis makanan tertentu dengan perasaan tidak nyaman. Penolakan yang muncul perlu dipahami dengan memperhatikan pengalaman anak, bukan sekadar dianggap sebagai perilaku membangkang.
Menciptakan suasana makan yang tenang dan memberi kesempatan kepada anak untuk beradaptasi dapat membantu membangun pengalaman yang lebih positif.
4. Anak Ingin Memiliki Kendali atas Pilihannya
Seiring pertumbuhan, anak mulai mengembangkan kemandirian dan keinginan untuk menentukan pilihan. Salah satu bentuknya dapat terlihat ketika anak ingin memilih sendiri makanan yang akan dikonsumsi.
Jika setiap waktu makan menjadi pertentangan antara orang tua dan anak, penolakan dapat semakin sering muncul. Karena itu, orang tua perlu menetapkan batasan yang konsisten sekaligus memberikan pilihan yang sesuai.
Misalnya, orang tua dapat menawarkan dua pilihan makanan bergizi yang tersedia, bukan membiarkan anak memilih tanpa batas atau memaksanya menghabiskan menu yang tidak disukai.
5. Pola Makan dan Kebiasaan di Rumah
Jadwal makan yang tidak teratur, kebiasaan mengonsumsi camilan sepanjang hari, serta terlalu banyak minum susu menjelang waktu makan dapat memengaruhi rasa lapar anak.
Selain itu, anak belajar melalui pengamatan. Jika makanan tertentu jarang tersedia atau anggota keluarga juga sangat membatasi pilihan makanan, anak mungkin memiliki kesempatan lebih sedikit untuk mengenal variasi menu.
Keluarga dapat mulai membangun rutinitas makan yang konsisten, menyediakan pilihan makanan yang beragam, dan memberikan contoh kebiasaan makan yang positif.
6. Kondisi Kesehatan atau Kesulitan Makan Tertentu
Tidak semua penolakan makanan disebabkan oleh kebiasaan atau perilaku. Masalah kesehatan seperti sembelit, refluks, nyeri pada mulut, alergi makanan tertentu, atau gangguan menelan dapat membuat anak menghindari makanan.
Pada kondisi tertentu, anak juga dapat mengalami kesulitan makan yang lebih kompleks sehingga membutuhkan evaluasi khusus.
Jika anak hanya menerima sedikit jenis makanan, berat badan menurun, pertumbuhan tidak sesuai harapan, atau tampak kesulitan mengunyah dan menelan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Penilaian profesional diperlukan untuk menentukan apakah terdapat masalah medis, gizi, sensorik, atau perilaku yang perlu ditangani.
Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Hanya Mau Makan Makanan Tertentu?
Menghadapi anak yang pilih-pilih makanan membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang konsisten. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua.
1. Hindari Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Memaksa, mengancam, atau memarahi anak saat makan dapat membuat pengalaman makan terasa menegangkan. Sebaiknya, sajikan makanan dengan tenang dan beri anak kesempatan untuk merespons rasa lapar serta kenyangnya.
Orang tua tetap bertanggung jawab menyediakan makanan yang sesuai, sedangkan anak diberi ruang untuk menentukan apakah dan berapa banyak yang mampu dimakannya.
2. Perkenalkan Makanan Baru Secara Bertahap
Jangan langsung menyerah ketika anak menolak makanan baru. Sajikan kembali makanan tersebut pada kesempatan lain dengan porsi kecil dan cara penyajian yang sesuai.
Sebagai contoh, jika anak belum mau memakan sayuran, orang tua dapat mengajaknya melihat, menyentuh, atau membantu menyiapkan sayuran terlebih dahulu. Tujuannya adalah membangun keakraban dengan makanan, bukan memaksa anak segera menyukainya.
3. Padukan Makanan Favorit dengan Pilihan Bergizi Lain
Jika anak memiliki makanan favorit, orang tua dapat menyajikannya bersama satu pilihan makanan lain yang ingin diperkenalkan.
Misalnya, ketika anak menyukai telur, telur dapat disajikan bersama sedikit sayuran atau sumber karbohidrat yang sesuai. Hindari menyamarkan makanan secara terus-menerus jika cara tersebut justru membuat anak kehilangan kepercayaan ketika mengetahui isi makanannya.
4. Buat Jadwal Makan yang Teratur
Tetapkan waktu makan utama dan camilan yang konsisten. Hindari kebiasaan memberikan camilan atau minuman secara terus-menerus sepanjang hari karena dapat mengurangi rasa lapar menjelang waktu makan.
Porsi juga perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Porsi kecil yang dapat ditambah jika anak masih lapar sering kali terasa lebih mudah diterima daripada sepiring penuh makanan.
5. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan
Ajak anak melakukan kegiatan sederhana sesuai usianya, seperti memilih buah, mencuci sayuran, atau menata piring. Keterlibatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenal makanan di luar situasi ketika ia diminta memakannya.
Tetap perhatikan keamanan saat anak membantu di dapur dan sesuaikan tugas dengan kemampuan perkembangannya.
6. Ciptakan Suasana Makan yang Nyaman
Usahakan waktu makan berlangsung dengan tenang. Kurangi gangguan layar jika memungkinkan, duduk bersama sebagai keluarga, dan hindari menjadikan jumlah makanan yang dihabiskan sebagai ukuran keberhasilan anak.
Berikan apresiasi terhadap usaha anak, seperti ketika ia bersedia mencoba menyentuh atau mencicipi makanan baru. Apresiasi sebaiknya tidak berubah menjadi tekanan agar anak selalu menuruti keinginan orang tua.
Kapan Anak yang Pilih-Pilih Makanan Perlu Mendapatkan Bantuan?
Orang tua perlu mempertimbangkan konsultasi jika anak terus menolak kelompok makanan tertentu hingga variasi makanannya sangat terbatas, waktu makan selalu menjadi konflik, atau kondisi tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari.
Pemeriksaan juga diperlukan apabila berat badan menurun, pertumbuhan terhambat, anak tampak lemas, sering muntah, mengalami nyeri saat makan, atau kesulitan mengunyah dan menelan. Jika anak tidak mampu minum, menunjukkan tanda dehidrasi, atau mengalami kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
Dokter dapat menilai kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak serta menentukan apakah diperlukan pendampingan dari ahli gizi, terapis makan, psikolog, atau tenaga profesional lain sesuai hasil evaluasi.
Semakin dini penyebab kesulitan makan dikenali, semakin besar kesempatan keluarga untuk memperoleh arahan yang sesuai sebelum masalah berdampak lebih jauh pada asupan gizi dan keseharian anak.
Apakah Pendampingan Psikologis Dapat Membantu Anak yang Pilih-Pilih Makanan?
Dalam beberapa situasi, pengalaman makan yang menegangkan, kecemasan tertentu, atau pola interaksi keluarga dapat ikut memengaruhi perilaku makan anak. Jika faktor tersebut dicurigai berperan, orang tua dapat mencari pendampingan profesional untuk memahami kebutuhan anak dan membangun rutinitas makan yang lebih mendukung.
Namun, picky eating memiliki banyak kemungkinan penyebab. Pendampingan psikologis tidak otomatis diperlukan untuk setiap anak yang memilih makanan, dan tidak menggantikan pemeriksaan medis atau evaluasi gizi ketika dibutuhkan.
Hipnoterapi juga terkadang ditawarkan sebagai salah satu bentuk pendampingan, tetapi bukti ilmiah mengenai efektivitasnya untuk mengatasi picky eating pada anak masih terbatas. Karena itu, orang tua perlu berhati-hati terhadap janji hasil pasti dan memastikan pendekatan yang dipilih sesuai dengan kondisi anak.
Langkah yang paling tepat adalah memahami penyebab perilaku makan terlebih dahulu, kemudian memilih bentuk bantuan berdasarkan kebutuhan yang telah dievaluasi.
Alamat Rumah Hebat Surabaya:
Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya.
WhatsApp: 085123333703























