SURABAYA – Buah merupakan salah satu sumber vitamin, mineral, serat, dan berbagai zat gizi yang mendukung tumbuh kembang anak. Namun, tidak semua anak mudah menerima buah dalam menu hariannya. Sebagian anak menolak ketika ditawari potongan pepaya, pisang, jeruk, atau semangka, bahkan memilih menutup mulut ketika orang tua berusaha membujuknya.
Kondisi anak tidak mau buah kerap membuat orang tua khawatir, terutama ketika anak juga menunjukkan kebiasaan pilih-pilih makanan atau mengalami gerakan tutup mulut (GTM). Meski demikian, penolakan terhadap buah tidak selalu berarti anak mengalami gangguan makan. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi penerimaan anak terhadap makanan, mulai dari rasa dan tekstur hingga pengalaman makan sebelumnya.
Lantas, apa penyebab anak tidak mau makan buah dan bagaimana cara mengatasinya tanpa membuat waktu makan menjadi penuh tekanan? Berikut penjelasannya.
Mengapa Anak Tidak Mau Makan Buah?
Sebelum menentukan cara mengatasinya, orang tua perlu memahami alasan anak menolak buah. Setiap anak memiliki preferensi dan pengalaman makan yang berbeda sehingga pendekatannya tidak selalu sama.
1. Tidak Menyukai Rasa atau Tekstur Buah
Setiap buah memiliki karakteristik rasa dan tekstur yang berbeda. Ada buah yang terasa asam, terlalu manis, berair, berserat, lembek, atau memiliki biji yang mengganggu kenyamanan anak ketika mengunyah.
Bagi sebagian anak, perbedaan sensasi tersebut dapat membuat buah terasa tidak menyenangkan. Anak mungkin menolak mangga yang terlalu lembek, jeruk yang terasa asam, atau pepaya karena aromanya yang khas.
Dalam situasi ini, penolakan tidak selalu disebabkan oleh keinginan anak untuk membantah orang tua. Bisa jadi, anak memang belum terbiasa atau merasa kurang nyaman dengan karakteristik buah tertentu.
2. Belum Terbiasa Mengonsumsi Buah
Anak yang jarang melihat atau mengonsumsi buah dalam kesehariannya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menerimanya. Makanan yang terasa asing dapat menimbulkan keraguan, terutama pada anak yang cenderung berhati-hati saat mencoba sesuatu yang baru.
Anak juga tidak selalu langsung menyukai buah setelah satu atau dua kali ditawari. Pengenalan makanan membutuhkan proses berulang dengan suasana yang nyaman, tanpa tekanan agar anak harus segera memakannya.
3. Memiliki Pengalaman Makan yang Kurang Menyenangkan
Pengalaman makan sebelumnya dapat memengaruhi respons anak terhadap makanan tertentu. Misalnya, anak pernah dipaksa menghabiskan buah, dimarahi ketika menolak, atau mengalami rasa mual setelah mengonsumsi buah tertentu.
Pengalaman tersebut dapat membuat anak mengantisipasi ketidaknyamanan ketika buah kembali disajikan. Akibatnya, anak mungkin langsung menolak sebelum mencoba.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk membangun pengalaman makan yang positif dan menghindari ancaman, hukuman, atau pemaksaan.
4. Lebih Menyukai Camilan atau Makanan Tertentu
Anak yang terbiasa mengonsumsi camilan manis, makanan ringan, atau minuman berpemanis mungkin kurang tertarik mencoba buah. Perbedaan rasa, tekstur, dan kebiasaan konsumsi dapat memengaruhi pilihan makanan anak.
Namun, orang tua sebaiknya tidak langsung melarang semua makanan kesukaan anak sebagai hukuman. Pendekatan yang lebih baik adalah mengatur jadwal makan dan camilan, menyediakan pilihan makanan yang beragam, serta memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal buah secara bertahap.
5. Sedang Mengalami Fase Pilih-Pilih Makanan
Pada masa pertumbuhan, sebagian anak mengalami fase pilih-pilih makanan atau picky eating. Anak dapat menolak kelompok makanan tertentu, termasuk buah, meskipun sebelumnya pernah memakannya.
Fase ini perlu diamati berdasarkan pola makan anak secara keseluruhan. Apabila anak masih mengonsumsi beragam makanan lain, tumbuh sesuai harapan, dan tetap aktif, penolakan terhadap beberapa jenis buah belum tentu menunjukkan masalah serius.
Sebaliknya, apabila pilihan makanan anak semakin terbatas, berat badan atau pertumbuhannya terganggu, atau anak mengalami kesulitan makan yang menetap, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Cara Mengatasi Anak Tidak Mau Buah Tanpa Memaksa
Menghadapi anak yang menolak buah memang membutuhkan kesabaran. Orang tua tidak harus membuat anak langsung menyukai semua jenis buah. Langkah yang lebih realistis adalah membantu anak mengenal buah sedikit demi sedikit, sambil menjaga suasana makan tetap positif.
1. Mulai dari Buah yang Paling Mungkin Disukai Anak
Tidak semua anak harus memulai dari buah yang sama. Cobalah mengamati karakteristik yang disukai anak, misalnya buah dengan rasa manis, tekstur renyah, atau bentuk yang mudah dipegang.
Jika anak menyukai tekstur yang renyah, orang tua dapat menawarkan potongan apel yang sesuai dengan kemampuan mengunyahnya. Jika anak lebih menyukai tekstur lembut, pisang matang dapat menjadi pilihan.
Hindari menjadikan satu jenis buah sebagai kewajiban. Tujuan awalnya adalah membangun pengalaman yang nyaman, bukan memaksa anak segera menghabiskan satu porsi.
2. Sajikan Buah dalam Bentuk yang Berbeda
Cara penyajian dapat memengaruhi ketertarikan anak terhadap makanan. Buah dapat disajikan dalam potongan kecil, irisan dengan bentuk sederhana, atau dipadukan dengan makanan lain yang sudah dikenal anak.
Misalnya, pisang dapat disajikan bersama oatmeal, sedangkan potongan buah dapat ditambahkan ke dalam yoghurt tanpa tambahan gula berlebihan jika sesuai dengan kebutuhan anak.
Meski demikian, bentuk penyajian yang menarik bukan jaminan anak akan langsung mau makan. Hindari menyamarkan buah secara terus-menerus sebagai satu-satunya cara agar anak mengonsumsinya. Anak tetap perlu mendapat kesempatan mengenali rasa dan bentuk buah secara langsung.
3. Kenalkan Buah Secara Bertahap
Mengenalkan buah tidak harus selalu dimulai dengan meminta anak memakannya. Anak dapat diajak melihat, menyentuh, mencium aroma, atau membantu mencuci buah terlebih dahulu.
Setelah anak merasa lebih nyaman, orang tua dapat menawarkan kesempatan untuk mencicipi sedikit. Apabila anak belum bersedia, tidak perlu memaksanya.
Paparan berulang yang berlangsung tanpa tekanan dapat membantu sebagian anak menjadi lebih akrab dengan makanan baru. Namun, proses ini mungkin membutuhkan waktu dan tidak selalu menghasilkan penerimaan yang sama pada setiap anak.
4. Libatkan Anak dalam Memilih dan Menyiapkan Buah
Ajak anak memilih satu atau dua jenis buah ketika berbelanja. Di rumah, anak juga dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana, seperti mencuci buah, meletakkannya di piring, atau membantu menyusun potongan buah dengan pengawasan orang dewasa.
Kegiatan tersebut memberi anak kesempatan untuk berinteraksi dengan buah tanpa langsung dituntut memakannya. Anak juga dapat merasa lebih dilibatkan dalam proses menentukan makanan yang disajikan.
Pastikan kegiatan sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Untuk anak kecil, orang tua perlu menyiapkan buah dengan bentuk dan ukuran yang aman.
5. Berikan Contoh dengan Ikut Makan Buah
Anak sering belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketika orang tua dan anggota keluarga lain mengonsumsi buah dengan santai, anak memperoleh contoh bahwa buah merupakan bagian biasa dari kegiatan makan sehari-hari.
Cobalah menyediakan buah untuk dinikmati bersama, tanpa terus-menerus mengarahkan perhatian kepada anak atau mengomentari setiap suapannya.
Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman yang lebih mudah makan buah. Setiap anak memiliki proses adaptasi yang berbeda.
6. Hindari Memaksa dan Menggunakan Makanan sebagai Ancaman
Memaksa anak menghabiskan buah, menahan makanan lain sebagai hukuman, atau mengancam anak karena menolak makan dapat membuat suasana makan semakin tegang.
Orang tua dapat menentukan jenis makanan yang disediakan dan waktu makan, sementara anak diberi kesempatan untuk menentukan apakah ia akan makan dan seberapa banyak sesuai rasa lapar serta kenyamanannya.
Pendekatan ini bukan berarti membiarkan anak mengonsumsi makanan tanpa batasan. Orang tua tetap dapat mengatur jadwal makan, menyediakan pilihan yang beragam, dan membatasi camilan yang terlalu dekat dengan waktu makan.
7. Atur Jadwal Makan dan Camilan
Anak yang terlalu kenyang akibat camilan atau minuman berkalori menjelang waktu makan mungkin tidak tertarik mencoba buah. Sebaliknya, jadwal makan yang terlalu tidak teratur juga dapat menyulitkan orang tua mengenali pola lapar dan kenyang anak.
Buat jadwal makan utama dan camilan yang relatif konsisten. Sediakan air putih sebagai minuman utama di antara waktu makan dan perhatikan konsumsi susu atau minuman lain agar tidak mengurangi kesempatan anak menikmati makanan yang beragam.
Kebutuhan setiap anak dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan tahap pertumbuhannya. Jika orang tua ragu mengenai porsi atau jadwal yang tepat, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
Apakah Anak Harus Makan Semua Jenis Buah?
Tidak. Anak tidak harus langsung menyukai seluruh jenis buah. Preferensi terhadap makanan dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan proses pengenalan makanan.
Meski begitu, variasi makanan tetap penting untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi. Jika anak hanya menerima satu jenis buah atau menolak hampir seluruh buah, orang tua dapat mencoba mengenalkan pilihan lain secara perlahan dan memperhatikan asupan makanan secara keseluruhan.
Buah utuh umumnya lebih dianjurkan daripada jus sebagai bentuk konsumsi buah sehari-hari karena buah utuh menyediakan serat dan mendorong anak mengenal tekstur makanan. Jus, termasuk jus tanpa tambahan gula, tidak sepenuhnya setara dengan buah utuh dan perlu dibatasi sesuai usia serta anjuran kesehatan.
Untuk bayi dan balita, perhatikan pula cara penyajian. Buah yang keras perlu disiapkan sesuai kemampuan mengunyah anak. Anggur utuh, potongan buah keras berukuran besar, dan bentuk makanan lain yang berisiko tersedak perlu dihindari atau disesuaikan dengan panduan keamanan makan berdasarkan usia.
Kapan Orang Tua Perlu Khawatir jika Anak Tidak Mau Buah?
Penolakan terhadap buah tidak selalu menandakan gangguan makan. Namun, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan kondisi ketika penolakan makanan disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan jika anak:
- Mengalami penurunan berat badan atau pertumbuhan yang tidak sesuai harapan.
- Memiliki pilihan makanan yang semakin sedikit hingga sulit memenuhi kebutuhan gizi.
- Sering muntah, mengeluh nyeri saat makan, atau mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
- Terlihat kesulitan makan dalam waktu lama sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Menunjukkan tanda dehidrasi, seperti buang air kecil yang jauh berkurang, mulut kering, atau tampak sangat lemas.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas atau tersedak berat, segera cari pertolongan medis darurat.
Pemeriksaan profesional membantu menentukan apakah anak membutuhkan penyesuaian pola makan, evaluasi medis, dukungan ahli gizi, atau pendampingan lain sesuai penyebabnya.
Alamat: Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya.
WhatsApp: 085123333708























