SURABAYA – Anak takut mencoba makanan baru merupakan salah satu tantangan yang sering dihadapi orang tua ketika membangun kebiasaan makan yang sehat. Anak mungkin hanya mau mengonsumsi makanan yang sudah dikenalnya, menolak makanan dengan warna berbeda, atau langsung menutup mulut ketika disodori menu yang belum pernah dicicipi.
Situasi ini kerap membuat orang tua khawatir, terutama ketika anak hanya mengandalkan beberapa jenis makanan dalam kesehariannya. Berbagai cara pun dilakukan, mulai dari membujuk, menyuapi, hingga memaksa anak mencicipi makanan. Namun, tekanan saat makan justru dapat membuat pengalaman mengenal makanan baru terasa semakin tidak menyenangkan bagi sebagian anak.
Padahal, penolakan terhadap makanan baru tidak selalu berarti anak sengaja bersikap sulit. Ada anak yang membutuhkan waktu untuk mengenali rasa dan tekstur, ada pula yang merasa cemas karena belum terbiasa dengan makanan tersebut.
Lantas, apa penyebab anak takut mencoba makanan baru? Bagaimana cara mengenalkan makanan baru tanpa memaksa dan membuat anak semakin menolak makan?
Mengapa Anak Takut Mencoba Makanan Baru?
Sebelum menentukan cara mengatasinya, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki pengalaman, preferensi, dan respons yang berbeda terhadap makanan. Berikut beberapa faktor yang dapat membuat anak enggan mencoba makanan baru.
1. Anak Belum Terbiasa dengan Rasa dan Tekstur Makanan
Anak cenderung lebih nyaman dengan makanan yang sudah dikenalnya. Ketika diperkenalkan dengan makanan baru, ia mungkin merasa asing dengan rasa, aroma, tekstur, bentuk, atau suhu makanan tersebut.
Sebagai contoh, anak yang terbiasa mengonsumsi makanan bertekstur lembut bisa menolak makanan yang lebih kasar atau berserat. Begitu pula anak yang terbiasa dengan rasa gurih mungkin membutuhkan waktu untuk menerima rasa sayuran tertentu.
Respons tersebut tidak selalu menandakan adanya masalah serius. Anak dapat membutuhkan pengalaman berulang untuk mengenal makanan baru secara bertahap, sesuai usia dan tahap perkembangannya.
2. Anak Mengalami Food Neophobia
Dalam perkembangan anak, terdapat kondisi yang dikenal sebagai food neophobia, yaitu kecenderungan takut atau enggan mencoba makanan yang belum dikenal.
Kondisi ini dapat muncul ketika anak mulai lebih selektif terhadap makanan. Ia mungkin bersedia melihat makanan baru, tetapi menolak menyentuhnya, mencium aromanya, atau mencicipinya.
Food neophobia berbeda dengan sekadar tidak menyukai suatu makanan. Anak bisa menolak makanan sebelum benar-benar mengetahui rasanya karena makanan tersebut dianggap asing.
Meskipun kecenderungan ini dapat menjadi bagian dari perkembangan, orang tua tetap perlu memperhatikan tingkat keparahan, variasi makanan yang diterima, kecukupan gizi, dan pertumbuhan anak.
3. Anak Takut dengan Pengalaman Makan yang Tidak Menyenangkan
Pengalaman makan sebelumnya dapat memengaruhi kesediaan anak untuk mencoba makanan baru. Misalnya, anak pernah dipaksa menghabiskan makanan, dimarahi ketika menolak sayuran, atau mengalami muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Pengalaman tersebut dapat membuat anak lebih waspada ketika melihat makanan yang dianggap tidak menyenangkan.
Jika anak pernah mengalami tersedak, kesulitan menelan, atau rasa sakit saat makan, penolakannya juga perlu diperhatikan secara khusus. Jangan menganggap semua penolakan sebagai perilaku biasa karena terkadang terdapat faktor fisik yang perlu dievaluasi.
4. Anak Sensitif terhadap Aroma, Warna, atau Tekstur
Sebagian anak menunjukkan respons yang kuat terhadap karakteristik sensorik makanan. Aroma yang tajam, tekstur berlendir, permukaan yang kasar, atau campuran beberapa bahan dalam satu hidangan dapat membuat mereka enggan mencoba.
Anak mungkin bersedia makan wortel mentah tetapi menolak wortel yang dimasak, atau menerima nasi tanpa campuran tetapi menolak nasi yang tercampur dengan lauk.
Preferensi seperti ini perlu diamati tanpa terburu-buru memberi label. Jika sensitivitas sangat kuat, pilihan makanan semakin terbatas, atau anak mengalami kesulitan makan yang menetap, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu menentukan kebutuhan pendampingan.
5. Anak Terbiasa dengan Pilihan Makanan yang Terbatas
Kebiasaan makan sehari-hari turut membentuk preferensi anak. Jika anak lebih sering mendapatkan jenis makanan yang sama, ia mungkin memiliki sedikit kesempatan untuk mengenal rasa dan tekstur yang berbeda.
Di sisi lain, orang tua mungkin merasa lebih mudah memberikan makanan favorit karena khawatir anak tidak akan makan jika menunya berbeda. Hal ini dapat dipahami, tetapi dalam jangka panjang anak tetap membutuhkan kesempatan untuk mengenal beragam makanan yang sesuai dengan usianya.
Perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Orang tua tidak perlu langsung mengganti semua menu favorit anak dengan makanan baru.
6. Anak Merasa Tertekan Saat Disuruh Mencoba
Kalimat seperti “Coba satu suap saja!”, “Kalau tidak dimakan, nanti tidak boleh bermain,” atau “Masa sayur saja takut?” dapat membuat anak merasa bahwa mencoba makanan merupakan kewajiban yang menegangkan.
Sebagian anak kemudian mengasosiasikan makanan baru dengan tekanan, konflik, atau kekhawatiran akan dimarahi.
Karena itu, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal makanan tanpa ancaman atau mempermalukannya. Tujuan awalnya bukan membuat anak langsung menghabiskan makanan, melainkan membangun pengalaman yang aman dan positif.
Cara Mengatasi Anak Takut Mencoba Makanan Baru
Membantu anak menerima makanan baru membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang konsisten. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua di rumah.
1. Kenalkan Makanan Baru Secara Bertahap
Jangan langsung menuntut anak memakan satu porsi makanan yang belum dikenalnya. Mulailah dengan meletakkan sedikit makanan baru di piring atau di wadah terpisah.
Biarkan anak melihat bentuknya, mengamati warnanya, mencium aromanya, atau menyentuh teksturnya jika ia bersedia. Anak tidak harus langsung mencicipi makanan tersebut pada kesempatan pertama.
Paparan berulang dapat membantu anak menjadi lebih familiar dengan makanan baru. Namun, jumlah kesempatan yang dibutuhkan setiap anak berbeda, sehingga orang tua tidak perlu menetapkan target bahwa anak harus menyukai makanan setelah beberapa kali percobaan.
2. Hindari Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Memaksa anak mencicipi atau menghabiskan makanan dapat meningkatkan ketegangan saat makan. Ketika anak menolak, cobalah tetap tenang dan hindari berdebat di meja makan.
Orang tua dapat mengatakan, “Ini makanan baru. Kamu boleh mengenalnya dulu. Kalau belum mau mencoba, tidak apa-apa.”
Pendekatan ini bukan berarti membiarkan kebutuhan gizi anak diabaikan. Orang tua tetap bertanggung jawab menyediakan makanan yang sesuai, mengatur kesempatan makan secara teratur, dan memantau kecukupan asupan. Namun, anak sebaiknya tidak dipaksa untuk menerima setiap makanan yang ditawarkan.
3. Sajikan Makanan Baru Bersama Makanan Favorit
Jika anak menyukai nasi, telur, atau makanan tertentu lainnya, orang tua dapat menyajikan makanan baru dalam porsi kecil bersama makanan yang sudah familiar.
Misalnya, ketika anak menyukai ayam, orang tua dapat menyajikan ayam bersama sedikit sayuran yang disediakan terpisah. Dengan begitu, anak tidak merasa seluruh hidangan berubah secara drastis.
Pastikan makanan yang sudah biasa dikonsumsi tetap tersedia sesuai kebutuhan anak. Hindari menyembunyikan makanan baru secara diam-diam jika hal itu dapat mengurangi kepercayaan anak ketika ia mengetahuinya.
4. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan
Mengenalkan makanan tidak harus selalu dimulai dari kegiatan makan. Orang tua dapat melibatkan anak dalam aktivitas sederhana, seperti memilih sayuran, mencuci buah, mengaduk adonan, atau menata makanan di piring.
Melalui kegiatan tersebut, anak berkesempatan mengenal makanan di luar situasi ketika ia diminta untuk memakannya.
Tidak semua anak akan langsung bersedia mencicipi hasil masakannya sendiri. Namun, keterlibatan yang menyenangkan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan familiaritas anak terhadap bahan makanan.
Sesuaikan aktivitas dengan usia dan kemampuan anak, serta selalu awasi penggunaan peralatan dapur.
5. Berikan Contoh dengan Menikmati Makanan Bersama
Anak dapat belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketika orang tua menikmati makanan dengan tenang dan menunjukkan sikap terbuka terhadap berbagai menu, anak memiliki kesempatan untuk melihat pengalaman makan yang positif.
Hindari menunjukkan ekspresi jijik, merendahkan makanan tertentu, atau memperdebatkan pilihan makanan di hadapan anak.
Orang tua juga tidak perlu berpura-pura bahwa semua makanan harus disukai. Jelaskan bahwa setiap orang dapat memiliki preferensi berbeda, tetapi tetap bisa mengenal makanan lain secara bertahap.
6. Buat Waktu Makan Lebih Tenang dan Menyenangkan
Suasana makan yang penuh tekanan dapat membuat anak semakin enggan mencoba makanan baru. Sebaliknya, suasana yang tenang membantu anak memusatkan perhatian pada kegiatan makan tanpa merasa terus diawasi.
Cobalah membiasakan waktu makan yang relatif teratur, mengurangi distraksi, dan menghindari ancaman atau hadiah berlebihan untuk setiap suapan.
Jika anak belum mau mencoba makanan baru, orang tua tetap dapat menikmati waktu makan bersama keluarga. Dengan demikian, kegiatan makan tidak selalu berakhir menjadi konflik antara orang tua dan anak.
7. Perhatikan Respons Anak, Bukan Hanya Jumlah Suapan
Kemajuan tidak selalu ditunjukkan dengan anak langsung memakan makanan baru. Pada tahap awal, anak mungkin hanya bersedia duduk di dekat makanan tersebut, menyentuhnya, atau mencium aromanya.
Respons tersebut dapat menjadi bagian dari proses pengenalan, meskipun bukan jaminan bahwa anak akan segera menyukainya.
Hindari memberikan pujian yang berlebihan hanya ketika anak menelan makanan. Sebaliknya, hargai keberanian anak untuk mengenal makanan dengan caranya sendiri, tanpa menjadikan penolakan sebagai perilaku buruk.
8. Kenali Kapan Anak Membutuhkan Bantuan Profesional
Jika anak hanya mau mengonsumsi sedikit jenis makanan, menolak semakin banyak makanan, atau mengalami kesulitan makan yang menetap, orang tua sebaiknya mencari bantuan profesional.
Dokter dapat mengevaluasi kondisi kesehatan, pertumbuhan, dan kemungkinan masalah fisik yang memengaruhi proses makan. Jika diperlukan, ahli gizi, terapis yang kompeten dalam keterampilan makan, atau psikolog anak dapat dilibatkan sesuai kebutuhan.
Penanganan sebaiknya tidak hanya berfokus pada perilaku menolak makanan, tetapi juga mencari penyebab yang mendasarinya.
Apakah Anak Takut Mencoba Makanan Baru Termasuk GTM?
Istilah gerakan tutup mulut (GTM) sering digunakan orang tua untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan atau menutup mulut ketika disuapi. Namun, istilah ini tidak menjelaskan penyebab penolakan dan bukan diagnosis medis tersendiri.
Anak yang takut mencoba makanan baru bisa saja sedang melalui fase perkembangan ketika ia lebih selektif terhadap makanan. Akan tetapi, penolakan juga dapat berkaitan dengan pengalaman makan yang tidak menyenangkan, sensitivitas sensorik, kecemasan, atau gangguan kesehatan tertentu.
Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk membedakan penolakan sesekali dengan kesulitan makan yang berlangsung terus-menerus.
Perhatikan apakah anak masih mendapatkan makanan yang cukup beragam, tumbuh sesuai harapan, dan dapat menjalani waktu makan tanpa tekanan berlebihan. Jika pilihannya semakin terbatas atau kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, jangan hanya mengandalkan bujukan di rumah.
Kapan Anak Takut Mencoba Makanan Baru Perlu Dikhawatirkan?
Tidak semua anak yang menolak makanan baru membutuhkan terapi. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya mendapatkan perhatian lebih lanjut, antara lain:
- Anak hanya menerima sangat sedikit jenis makanan sehingga variasi asupan semakin terbatas.
- Anak mengalami penurunan berat badan atau pertumbuhan yang tidak sesuai harapan.
- Anak sering muntah, kesulitan mengunyah atau menelan, atau mengeluh sakit ketika makan.
- Anak menunjukkan ketakutan yang kuat setiap kali berhadapan dengan makanan.
- Waktu makan selalu menjadi sumber konflik dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Anak tampak lemas, menunjukkan tanda dehidrasi, atau mengalami gejala fisik lain yang mengkhawatirkan.
Apabila anak mengalami kesulitan bernapas atau tersedak berat, segera cari pertolongan medis. Jangan memaksakan makanan padat kepada anak yang menunjukkan kesulitan menelan.
Semakin jelas penyebabnya, semakin tepat pula dukungan yang dapat diberikan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu orang tua memahami apakah anak membutuhkan penyesuaian kebiasaan makan, evaluasi gizi, pemeriksaan medis, atau pendampingan psikologis.
Apakah Pendampingan Psikologis Dapat Membantu Anak yang Takut Mencoba Makanan Baru?
Pendampingan psikologis dapat dipertimbangkan apabila ketakutan anak berkaitan dengan kecemasan, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, atau interaksi saat makan yang menimbulkan tekanan. Namun, pendekatan yang tepat bergantung pada hasil evaluasi dan kondisi masing-masing anak.
Orang tua dapat mencari bantuan untuk memahami pola perilaku anak, mengenali pemicu penolakan, dan mempelajari cara mendampingi anak tanpa memperbesar ketegangan saat makan.
Rumah Hebat Surabaya dapat menjadi salah satu tempat untuk mencari informasi mengenai layanan pendampingan yang tersedia. Jika mempertimbangkan hipnoterapi, diskusikan terlebih dahulu kesesuaian metode tersebut dengan tenaga profesional yang kompeten. Bukti khusus mengenai efektivitas hipnoterapi untuk ketakutan mencoba makanan baru pada anak masih terbatas. Karena itu, hipnoterapi tidak boleh dianggap sebagai solusi yang pasti berhasil atau pengganti pemeriksaan medis dan penanganan gizi jika diperlukan.
Pendampingan yang baik perlu berpusat pada kebutuhan anak, memperhatikan keselamatan, dan menghindari tekanan agar anak segera menghabiskan makanan.
Alamat: Jl. Kebraon Manis Utara, Cluster Taman Jivva Blok B06, Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya.
WhatsApp: 085123333708.























